Headline Majalah PERANTAU

Pencarian Lokal

Custom Search

Titipan Link Teman

Tuesday, March 4, 2008

Edisi Januari-Februari: Sambung Rasa

1. Perempuan dan Penderitaan
Saya ingin menanggapi tulisan Sr. Christina Sri Murti, FMM di majalah Perantau edisi Maret-April 2007 yang berjudul “Syukur Karena Aku Perempuan”. Dalam tulisan tersebut dikatakan bahwa hakikat perempuan adalah diciptakan untuk memberikan hidup dan hidup untuk memberikan diri sebab dalam diri perempuan ada benih-benih kekuatan untuk menyerahkan diri secara total kepada seseorang, Allah ataupun suatu kehidupan tertentu. Oleh sebab itu, perempuan mempunyai kemampuan untuk akrab dan dekat dengan penderitaan. Dalam bagian berikutnya masih dijelaskan lagi mengenai hati perempuan yang peka dalam menghadapi kemalangan, kebahagiaan yang lahir dari penderitaan dan pemberian diri, pengkhianatan panggilan sebagai perempuan, serta mencintai secara tidak bijaksana.
Tulisan ini sangat menarik perhatian saya sebab di tengah maraknya perjuangan terhadap kesetaraan gender, ada orang yang mengingatkan kembali hakikat panggilan sebagai perempuan. Penderitaan dan hal-hal semacamnya sudah menyatu dengan kodrat hidup sebagai perempuan yang memang ditakdirkan hanya untuk menjadi rekan kerja manusia pertama.
Namun selain itu saya juga melihat bahwa ada cara pandang yang perlu diseimbangkan. Benar bahwa kelahiran perempuan membawa benih-benih kekuatan untuk menghadapi segala macam penderitaan dan ketidaknyamanan. Namun tidak boleh dilupakan bahwa perempuan juga mempunyai cara-cara tersendiri untuk menciptakan kebahagiaan. Dengan kata lain, kebahagiaan perempuan tidak selamanya lahir dari penyerahan diri yang total terhadap penderitaan yang mereka alami. Ketegaran perempuan dan kebijaksanaannya dalam menghadapi hidup tidak hanya dilahirkan oleh kemalangan dan penderitaan mereka, tetapi juga merupakan bakat yang gratis dari Tuhan. (Christa, Jogyakarta)

2. Frekuensi Penerbitan
Hai, saya baru satu kali membaca majalah Perantau. Menurut saya isinya cukup menarik untuk dibaca dan bermanfaat dalam memberikan informasi. Sayangnya saya belum tahu bagaimana caranya untuk mendapatkan Perantau. Apakah Perantau terbuka untuk umum, atau didistribusikan hanya untuk kalangan tertentu? Bagaimana frekuensi penerbitannya?
O.K, itu saja dari saya. Terima kasih atas perhatiannya, semoga Perantau semakin maju dan tetap eksis. Viva Perantau. (Perantaunisti, Jakarta)

Jawaban :
Hai juga. Terima kasih atas perhatian saudara kepada majalah kita ini. Cara mendapatkan Perantau cukup mudah, apalagi saudara tinggal di Jakarta. Saudara dapat menghubungi kami
via email dan memberitahukan alamat saudara. Setelah itu, kami akan segera mengirimkan terbitan Perantau terbaru ke alamat saudara, atau saudara dapat mengambilnya sendiri ke alamat kami.
Majalah Perantau adalah hasil kerjasama keluarga Fransiskan dan Fransiskanes yang berada di Indonesia. Jadi, sebenarnya terbitannya pun dikhususkan bagi para biarawan/biarawati Fransiskan tersebut. Namun tetap tidak menutup kemungkinan orang lain untuk membacanya mengingat spiritualitas Fransiskan yang cukup kaya juga merupakan kekayaan seluruh gereja. Terima kasih.

3. Salam persaudaraan
Selamat Natal dan Tahun Baru. Semoga Roh Natal dan Tahun Baru memberikan semangat baru kepada kita semua dan Tuhan senantiasa menyertai hidup kita. Saya sangat senang karena sudah dua tahun “berkenalan” dan “menjadi sahabat” Perantau. Saya sungguh merasakan bahwa persahabatan ini telah memberikan banyak hal positif terhadap perjalanan hidupku. Artikel, tulisan, opini dan tulisan lain yang termuat dalam Perantau membiaskan sinar-sinar inspiratif yang menggelitik saya untuk melakukan perubahan.
Namun, saya sangat sedih karena beberapa bulan terakhir sahabatku Perantau mulai menghilang dari kehidupanku. Mengapa? Kata itulah yang selalu mengusik saya dan Bolehkah redaksi bercerita untuk menguak kata ‘Mengapa’ itu?
Saya juga masih bingung karena ternyata Perantau memiliki saudara kandung yakni Gita Sang Surya dan Taufan. Bolehkah redaksi menjelaskan tentang perbedaan dan persamaan antara majalah-majalah tersebut?
Dengan penuh harap aku menanti jawaban redaksi. (Christian, Jakarta)

Jawaban :
Salam persaudaraan.
Saudara Christian, kami memohon maaf yang sebesar-besarnya karena kerinduan saudara untuk mendapatkan Perantau baru dapat kami penuhi dalam edisi ini. Beberapa bulan terakhir memang sedang terjadi pergantian pengurus dan redaksi Perantau sehingga jadwal penerbitannya pun agak terganggu. Namun jangan khawatir karena redaksi sudah mengkombinasikan beberapa tema yang sempat tertunda menjadi satu edisi yang cukup tebal. Untuk hal tersebut Redaksi memohon maaf.
Mengenai kebingungan saudara tentang perbedaan Perantau dengan dua majalah lainnya, akan kami jelaskan di sini. Perbedaan utamanya adalah pokok yang dibicarakan dalam majalah tersebut. Pokok pembicaraan Perantau adalah mengenai spiritualitas Fransiskan, sehingga pembacanya pun sebagian besar dari kalangan biarawan/biarawati Fransiskan. Gita Sang Surya adalah majalah yang diterbitkan oleh lembaga
Justice, Peace and Integrity of Creation. Jadi isinya pun seputar hak asasi manusia, ekologi, keadilan dan semacamnya. Sedangkan Taufan adalah majalah intern Ordo Fratrum Minorum di provinsi Indonesia, sehingga isinya mencakup informasi ordo di seluruh Indonesia dan juga surat-surat, entah dari Minister Jendral maupun Minister Provinsi. Semoga kebingungan saudara sudah terjawab.

Terima kasih.

Edisi Januari-Februari: Refleksi

Semua Orang Ingin Sejahtera
(Titus Angga Restuaji, OFM)

Baru-baru ini saya pergi ke pasar Senen. Membandingkan suasana tempat tersebut saat ini dengan 5-4 tahun yang lalu memang ada yang berbeda. Keruwetan lalu lintas memang masih menjadi ‘ciri khas’ tempat tersebut, apalagi menjelang sore hari. Namun setidaknya keruwetan daerah pasar Senen, terutama sekitar jembatan layang, berkurang dengan ‘dipindahkan’nya para pedagang yang dulu sering mengganggu pemakai jalan karena lapak-lapak mereka yang ‘memakan’ badan jalan. Kolong jembatan yang biasanya menjadi rumah para pemulung dan tunawisma ditembok rapat sehingga penduduk Jakarta tidak perlu melihat pemandangan tak sedap. Namun, beberapa bagian dari tembok penutup kolong jembatan layang itu kini sudah dijebol. ‘Hasil jebolan’ tersebut menjadi seperti pintu dan jendela tempat orang dan udara keluar masuk.
Peristiwa tersebut secara spontan menyita perhatian saya. Tembok penutup kolong jembatan yang jebol tersebut menyampaikan sebuah pesan bagi wawasan saya: kemiskinan tidak bisa ditutupi dan setiap orang akan berusaha sekuatnya untuk mencapai kesejahteraan. Saya tidak tahu siapa dan apa tujuan orang-orang yang menjebol tembok itu. Namun, saya berandai-andai bahwa mereka yang menjebol tembok itu ingin tinggal di dalamnya.
Tembok yang menutupi kolong jembatan layang. Jika kita melihat sesuatu yang tertutup atau terbungkus, secara spontan kita ingin mengetahui apa yang ada di dalamnya; bertanya: “Apa yang terbungkus dan tertutup itu?” Apa yang ada di balik tembok penutup jembatan layang itu? Setahu saya sebelum ditutup dengan tembok tempat itu adalah tempat beristirahat dan bahkan mungkin menjadi rumah bagi para tunawisma, pengemis, pemulung beserta anak-anak mereka. Tempat itu kumuh karena banyak sampah hasil kerja para pemulung. Mungkin juga tempat itu berbau pesing dan apek karena sebagai rumah, tempat itu tidak menyediakan tempat khusus bagi penghuninya untuk kegiatan Mandi, Cuci dan Kakus (MCK). Pokoknya suasana tempat itu sangat kumuh dan tidak sedap dipandang.
Namun, penduduk Jakarta tidak perlu khawatir akan berlama-lama melihat gambar kemiskinan tersebut. Pemerintah kota sudah siap siaga dengan solusinya: “Ditembokin aja! Cepat dan efektif. Kan, langsung nggak kelihatan kekumuhan itu.” Bersamaan dengan itu inti persoalan kemiskinan pun ikut ‘ditembok’.
Tembok itu jebol! Hingga suatu saat kenyamanan itu terusik kembali: tembok yang menutup kolong jembatan itu ‘terjebol’. Ah, ternyata tembok itu tidak sekokoh kelihatannya. Bukan, bukan! Bukan ‘terjebol’ tetapi ‘dijebol’! Rupanya kekokohan tembok itu tidak dapat menahan kuatnya semangat para tunawisma untuk mempunyai rumah, untuk sejahtera. “Kesejahteraan itu seharusnya milik kami juga!” Teriak mereka kuat-kuat.
Saya yakin pelaku penjebolan tembok tersebut tak hendak menjebol tiang-tiang penopang jembatan layang. Karena jika memang benar dugaan saya bahwa mereka yang menjebol tembok tersebut bertujuan untuk tinggal di bawah jembatan layang itu, maka menjebol tiang penopang jembatan layang berarti membinasakan hidup mereka sendiri. Itu bukan tujuan mereka. Tujuan mereka adalah kesejahteraan hidup, bukan kematian. Maka dalam mencapai cita-cita kesejahteraan pun mereka pasti tak pernah berdoa: “Tuhan, semoga mereka yang kaya Kau jatuhkan dan jadi miskin, dan kami yang miskin Kau angkat jadi kaya.” Siapa tahu Tuhan membantu mereka menjadi sejahtera melalui tangan orang-orang yang punya. Yah, siapa tahu?
Memang tepat pertanyaan ini: Apakah jika mereka telah mempunyai ‘rumah’ di kolong jembatan itu mereka dapat dikatakan sudah sejahtera? Tentu saja tidak. Tapi, bagi mereka itu lebih baik dari pada tidak mempunyai tempat berteduh sama sekali. Walaupun tak punya harta berharga, mereka masih punya harapan bahwa anak-anak mereka dapat bertahan hidup, bahkan tumbuh sehat jika mampu, agar nasib keluarga dapat terangkat. Walaupun setiap hari mereka harus menerima kenyataan bahwa ‘kesejahteraan’ itu nyatanya hanya milik orang-orang ‘yang berpunya’, atau yang setidaknya tercukupi kebutuhan-kebutuhan dasarnya. Bukan milik mereka yang kebutuhan dasar sehari-hari pun tidak selalu terpenuhi. Tetapi mereka berhak berharap untuk menjadi sejahtera kan? Walaupun itu hanya harapan. Mereka berhak bermimpi kan? Walaupun mungkin akan terus tinggal sebagai mimpi? Jika mimpi untuk menjadi sejahtera adalah milik semua orang, mengapa kenyataan kesejahteraan hanya dimiliki oleh sebagian orang? Mimpi dapat jadi tak terwujud karena orang tidak mau bangun dari tidur. Namun, mimpi juga tidak dapat terwujud karena sesudah bangun orang pun tak diberi kesempatan untuk meraih mimpinya.

Saling-silang
Bagi siapa saja, kesejahteraan memang tidak datang dengan sendirinya. Ia menginginkan manusia mengejarnya, berlari, agar tidak saja manusia ‘kenyang perutnya’ tetapi juga lincah, kuat dan bahagia. Andaikan setiap orang di muka bumi ini telah tercukupi kebutuhannya akan sandang, pangan, dan papan, akankah pencarian untuk kesejahteraan berakhir? Saya rasa tidak. Kesejahteraan menyangkut juga yang batiniah: Apakah hati saya damai karena hubungan yang baik dengan tetangga? Apakah saya mampu berekreasi setelah sibuk bekerja? Apakah relasi saya dengan Sang Sumber Hidup terpelihara baik?
Namun, orang yang lapar akan sulit untuk mengganti rasa laparnya dengan berekreasi sepanjang hari. Bahkan orang yang tak punya rumah tidak akan tahu siapa tetangganya untuk disapa. Kesejahteraan bagi para tunawisma, pemulung dan anak-anaknya pertama-tama adalah mempertahankan hidup: makan supaya dapat bekerja lagi, sandang supaya dapat bergaul dengan orang lain dan tempat tinggal yang tetap sebagai penanda identitas yang lebih jelas. Untuk mendapatkan kesejahteraan itu mereka harus mengejarnya.
Bagi penguasa yang berhati nurani, yang tahu kekuasaannya berasal dari rakyatnya, kesejahteraan berarti terpenuhinya kebutuhan rakyatnya. Penguasa yang berhati nurani menghendaki rakyatnya hidup dalam ketercukupan, keteraturan, kenyamanan, kerukunan. Ada yang kaya, ada yang sederhana, tetapi tidak ada yang miskin. Setiap titik kemiskinan adalah penodaan atas janjinya terhadap rakyatnya. Penguasa yang berhati nurani akan mendorong dan membantu rakyatnya untuk giat bekerja; menyusun kesejahteraan hidupnya, membangun kesejahteraan masyarakatnya. Untuk mendapatkan kesejahteraan itu pemerintah harus mengejarnya.
Kesejahteraan bermakna “ke-saling-silang-an” karena dalam mencapainya seseorang tidak dapat mengabaikan orang lain. Tanpa pemerintah kesejahteraan akan menjadi kekacauan. Tanpa rakyat, siapa yang akan bekerja demi kesejahteraan bersama? Kesejahteraan harus diperjuangkan secara bersama-sama, karena akan dimiliki bersama. Untuk mencapai kesejahteraan setiap orang harus menganggap orang lain adalah saudara-saudarinya; untuk berbagi dan menerima, untuk memahami dan dipahami, untuk mengerti dan dimengerti, untuk menguatkan dan dikuatkan.
Bagi kita yang berkecukupan apa makna kesejahteraan itu? Jika kita setuju bahwa kesejahteraan adalah hak semua orang dan harus diwujudkan secara bersama-sama, tentu kita juga akan berjuang untuk diri kita, keluarga, tetapi juga untuk orang lain: berlaku adil, tidak serakah, hemat, belas kasih, peduli. Karena setiap orang ingin sejahtera.

Edisi Januari-Februari: Dinamika

DARI KONFERENSI PBB TENTANG

PERUBAHAN IKLIM

(Peter Aman, OFM)

Bali selama kurang lebih dua minggu, 3 – 15 Desember 2007, menjadi sorotan global. Betapa tidak. Belasan ribu delegasi dari sekitar 187 negara hadir di sana. Kelompok-kelompok LSM dalam dan luar negeri juga tumpah ruah di Nusa Dua, tempat Konferensi berlangsung.

Yang mendorong mereka mengalir ke Bali hanya satu, yakni keprihatinan global tentang bumi kita yang semakin panas. Emisi gas rumah kaca umumnya dituding sebagai penyebab utama pemanasan global. Tetapi emisi gas rumah kaca bukanlah suatu subyek yang harus bertanggungjawab terhadap akibat dampak negatif yang disebabkannya. Emisi gas rumah kaca adalah produk buatan manusia yang tidak menimbang dampak ekologis dari perilakunya, khususnya dalam penggunaan atau pemanfaatan sumber-sumber alam.

Pencemaran udara akibat emisi bahan bakar fosil dan minyak bumi erat terpaut pada pola hidup (konsumtif) dan pola produksi yang diterapkan oleh manusia. Penebangan hutan berskala jutaan ha setiap tahun untuk dikonversi menjadi ladang-ladang sawit bersumber pada keinginan manusia menumpuk harta di dunia sambil merugikan kehidupannya sendiri di masa kini dengan rusaknya hutan. Toh ternyata para pengikut St. Fransiskus Assisi tidak berpangku tangan, malah turut serta membabat hutan untuk perkebunan sawit mereka.

Konferensi Pemanasan Global di Nusa Dua Bali kembali mengingatkan kita bahwa lingkungan hidup yang tidak lagi utuh cepat atau lambat akan mengancam dan memusnahkan keutuhan ciptaan secara keseluruhan. Tentu, apa yang disepakati di sana bukanlah hukum-hukum yang mewajibkan. Kewajiban untuk peduli pada bumi tentu mesti lahir dari kesadaran dan tanggung jawab atas kehidupan dan keberlangsungan kehidupan, baik manusia maupun ciptaan secara keseluruhan.

Salah satu pokok yang menarik dari Konferensi ini adalah munculnya gagasan untuk menopang dan menunjang kehidupan masyarakat pinggiran hutan, agar mereka tidak membabat hutan demi sesuap nasi. Kehidupan mereka harus dibantu, kebutuhan harus dipenuhi dan hutan harus dijaga. Jadi mesti ada kompensasi yang adil. Ketika rakyat dilarang membabat hutan maka pemerintah harus menemukan alternatif demi kehidupan mereka.

Gagasan ini kelihatannya indah, tetapi di balik itu tetap tidak berubah cara pandang bahwa kerusakan hutan terutama disebabkan oleh rakyat-rakyat kecil sekitar hutan. Yang tidak diakui dan ingin disembunyikan adalah hasrat dan nafsu besar kaum kapitalis yang membabat habis hutan dan penghancuran kekayaan hayati di dalamnya demi tanaman monokultur, semacam sawit, untuk keuntungan ekonomis sesaat.

Keluhan kelompok masyarakat asli yang disuarakan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) atau sejumlah utusan dari Afrika, Asia, Amerika Latin, tetap menjadi seperti suara yang berseru di padang gurun. Ideologi hidup ekologis, masih tunduk tak berdaya di hadapan ideologi ekonomi kapitalis, yang mempertaruhkan keberlanjutan kehidupan atas nama uang.

Para pengikut St. Fransiskus Assisi, Pelindung Ekologi, akan terus menerus ditantang untuk hadir dan mewujudkan kharisma dan warisan spiritualnya yang pekat akan nilai ekologis. Kehadiran para pengikut St. Fransiskus di hampir semua pulau di Nusantara ini mestinya menjadi ‘jiwa dan suara hati’ bangsa untuk terus mengingatkan bahwa merusak alam adalah merusak keseluruhan keutuhan ciptaan; merusak keutuhan ciptaan adalah pelanggaran terhadap mandat awali manusia untuk memelihara keutuhan ciptaan dan keutuhan kehidupan secara keseluruhan.

Edisi Januari-Februari: Dinamika

KELUARGA FRANSISKAN DI TENGAH
PEMANASAN GLOBAL

(Iron, OFM)

Pada hari Selasa 29 Januari 2008, JPIC-OFM Indonesia mendapat kunjungan seorang saudara Fransiskan Capusin yang terlibat di Fransciscan Internasional (FI), yakni Sdr. Bernd Beermann, OFMCap. Kedatangan Sdr. Bernd ke Indonesia terkait erat dengan tugasnya sebagai anggota staf FI dalam bidang ekologi. Sebagai koordinator animasi ekologi FI, saudara Bernd diutus oleh FI untuk berpartisipasi sebagai peserta pada Konferensi Perserikatan Bangsa Bangsa tentang Perubahan Iklim (United Nations Conference on Climate Change) di Nusa Dua Bali, 3 – 14 Desember 2007.
Tentu saja, selain mengemban amanat untuk berpartisipasi dalam diskusi global tentang dampak masalah dari pemanasan global (Global Warming), Saudara Bernd yang bertanggung jawab untuk menyebarluaskan berita-berita kegiatan FI khususnya menyangkut keadaan ekologi ke dalam website FI ini pun mengambil kesempatan ini untuk mengunjungi dan mensosialisasikan dampak pemanasan global terhadap para saudara-saudari keluarga Fransiskan di Indonesia. Dalam refleksinya, Saudara Bernd menyadari sungguh bahwa panggilan untuk menjaga keutuhan ekologi-alam ciptaan merupakan panggilan dasar seorang Fransiskan dalam membangun persaudaraan semesta, bersaudara bukan saja dengan sesama manusia tetapi juga dengan seluruh alam ciptaan.
Salah satu bentuk riil upayanya adalah dengan mengadakan sharing bersama tentang dampak pemanasan global dan FI di ruang audio visual JPIC-OFM. Hadir dalam sharing yang penuh dengan suasana persaudaraan itu yakni para saudara Fransiskan yang terlibat di JPIC-OFM, beberapa saudara muda (Frater yang belum profesi kekal) yang sedang studi di STF Driyarkara, para saudari FMM yang datang dari Slipi dan Bogor serta saudari dari FSGM. Sharing ini difasilitasi langsung oleh saudara Peter Aman selaku direktur JPIC-OFM.
Semua peserta yang hadir bersama-sama dengan Saudara Bernd mengawali sharing dan diskusi ini dengan terlebih dahulu menyaksikan film dokumenter tentang kerusakan alam di Riau. Diceritakan dalam film dokumenter tersebut bagaimana kekuatan korporasi-korporasi global menghancurkan hutan secara meluas di daerah Sumatra. Demi mengejar target ekonomi lewat penanaman kelapa sawit, hutan-hutan pun ditebang dan dialihkan menjadi kebun kelapa sawit. Sistem monokultur inilah yang merusak sistem keseimbangan alam-ekosistem pada hutan-hutan tersebut. Tambahan pula, kehidupan suku anak dalam yang mengandalkan hutan sebagai habitat dan tempat tinggal mereka pun dihancurkan. Mereka dipaksa untuk keluar dari rumah dan lingkungan yang telah mereka diami bertahun-tahun lamanya.
Setelah bersama-sama menyaksikan kehancuran hutan di Sumatra, Saudara Bernd memaparkan berbagai hal menyangkut kondisi dan dampak ekologi saat ini bagi kehidupan manusia. Pertimbangan ekonomi-bisnis umumnya mendasari upaya untuk mengganti ekosistem hutan dengan sitem monokultur penanaman kelapa sawit. Penghancuran hutan dan eksploitasi secara besar-besaran terhadap alam merupakan suatu potret betapa perspektif ekosistem belum disadari oleh manusia. Manusia terjebak dalam dunia industri dengan pengejaran keuntungan (uang) menjadi prioritas dan target.
Menurut saudara Bernd, sistem ekologi atau ekosistem yang telah terbentuk pada hutan secara alamiah yang telah dihancurkan akan mengakibatkan adanya ketidakseimbangan pada ekosistem yang baru (hutan kelapa sawit). Sebagai sebuah ekosistem, alam semesta merupakan satu rangkaian jaringan yang saling terkait dan bergantung antara satu dengan yang lain.
Manusia sebagai salah satu bagian dari rantai ekosistem memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaga dan merawat alam semesta ini. Sebab menjaga alam semesta berarti menjaga kehidupan untuk terus berlangsung dan sebaliknya menghancurkan hutan (alam) berarti menghancurkan kehidupan seluruh makhluk di alam semesta ini termasuk manusia.
Bagi saudara yang juga mendalami secara khusus ilmu kimia dan biologi ini, pemahaman dan pemaknaan alam semesta sebagai sebuah jaringan ekosistem amatlah diperlukan bagi semua umat manusia. Sebab dengan pemahaman yang tepat akan alam semesta sebagai sebuah ekosistem dan manusia sebagai salah satu bagian dari mata rantai ekosistem tersebut, maka kita mampu berpikir dan bertindak secara bijak dan tepat terhadap alam, seperti memelihara tanah dan hutan kita. Bahkan menurut saudara Bernd, persoalan ekologi pun dapat dikategorikan sebagai persoalan human right.
Setelah mendengar pemaparan dan sharing dari saudara Bernd, peserta diajak oleh moderator untuk memberikan pertanyaan-pertanyaan dan sharing seputar pengalaman atau persoalan ekologi. Sharing dan pertanyaan-pertanyaan berkisar pada dua hal. Pertama terkait dengan upaya bagaimana membangun kolaborasi dan jaringan antara sesama keluarga Fransiskan dan juga dengan kelompok religius, agama dan keyakinan lain serta Non Government Organization (NGO) atau dengan seluruh masyarakat. Kedua adalah bagaimana melihat kompleksitas persoalan ekologi termasuk sampah di Jakarta dan bagaimana upaya mencari alternatif mengatasinya.
Bagi saudara Bernd, sosialisasi dan kampanye tentang isu kerusakan ekologi baik di tingkat internal Fransiskan maupun di luar Fransiskan sangat urgen. Alasannya karena semua manusia akan merasakan akibat dari global warming apapun latar belakangnya. Proses menanggulangi persoalan ekologi yang kompleks membutuhkan kerjasama dengan semakin banyak orang. Pada titik inilah menurut beliau, keluarga Fransiskan harus proaktif mensosialisasikan dan bertindak nyata secara bertahap guna mengatasi persoalan global ini dengan membangun kerjasama dengan semua orang yang memiliki kehendak dan tujuan mulia yakni memelihara alam semesta.
Menjawab persoalan kedua, saudara Bernd melukiskan kaitan yang erat, rumit dan kompleks antara kebijakan pemerintah, kepentingan korporasi-bisnis dan pemeliharaan keutuhan ciptaan. Menurut beliau, sebagaimana kasus sampah di Jakarta, regulasi yang tepat dengan mengindahkan keutuhan alam dari pemerintah untuk meng-counter eksploitasi berlebihan dari pabrik-pabrik industri dan sampah buangan rumah-rumah tangga sangat membantu mengurangi berbagai akibat negatif dari sampah. Pada tahap ini, pendekatan dan dialog dengan para pengambil kebijakan dalam pemerintah menjadi sangat penting bagi keluarga Fransiskan.
Tentu saja, efektivitas menanggulangi persoalan kerusakan ekologi khususnya sampah di Jakarta sangat bergantung pula pada kesadaran dan tindakan nyata semua warga masyarakat Jakarta untuk lebih bijak dalam mengatur sampah dalam rumah tangganya masing-masing. Ini berarti termasuk cara pengelolaan sampah dari semua keluarga besar Fransiskan di Jakarta.
Bagi saudara Bernd, kata-kata dan tindakan nyata tiap-tiap saudara dan saudari untuk menjaga dan merehabilitasi ekosistem di mana kita berada merupakan langkah yang pertama dan strategis untuk mengatasi kerusakan alam yang makin mengkhawatirkan saat ini. Oleh karena itu, bagi beliau, kita membutuhkan saudara-saudari yang sungguh-sungguh memberi perhatian, berkomitmen dan bertindak konkrit terhadap persoalan ekologi. Di sinilah aspek kefransiskanan kita ditantang untuk memelihara persaudaraan alam semesta.
Komunitas FI, dengan berbagai karya dan tindakannya, merupakan salah satu upaya Persaudaraan untuk mewujudkan Keutuhan Ciptaan. Saudara Bernd pun berharap bahwa dengan kehadiran perwakilan FI di Bangkok yang mengakomodasi berbagai isu Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan di kawasan Asia-Pasifik, kolaborasi dan kerja sama di antara kita semakin erat dibangun untuk mewujudkan spiritualitas Fransiskan kita yang terarah pada penciptaan persaudaraan semesta yang adil, damai dan utuh.
Akhirnya, sharing dan diskusi ekologi ini pun diakhiri dengan makan bersama. Suasana persaudaraan dan kebersamaan tampak nyata di wajah-wajah peserta yang cerah setelah mendapat banyak sharing dan dukungan dari utusan FI ini. Kita berharap bersama semoga dengan kunjungan persaudaraan dan sharing dari saudara Bernd, kita sebagai keluarga besar Fransiskan semakin berani untuk terlibat bersama-sama dalam menangani persoalan-persoalan kerusakan alam semesta di tempat kita masing-masing dengan membangun jaringan dan kerja sama di antara kita.

Link Teman-Teman