Headline Majalah PERANTAU

Pencarian Lokal

Custom Search

Titipan Link Teman

Saturday, May 2, 2009

PUISI

Rivo Torto
Oleh Sdr.Kris Tumpajara,MTB
Tinggal di Kom. Singkawang



Persis di lekukan batang sungai
Kau tanam pohon yang lebih menyerupai tanaman liar,
yang ranting-rantingnya tak beraturan
di kala Assisi terlalu gerah dengan tembok-tembok bata merah
yang kerap membangkitkan amarah

Mengapa kau tidak menanam di bukit Subacio dan memerah ternak para pertapa?
Mengapa kau tidak mengiba pada warisan menek moyangmu yang membuat garis
garis nasibmu lebih terjamin?

Persis, di lekukan batang sungai
Kau dirikan pondok yang lebih menyerupai gubuk liar dan sewaktu-waktu dapat
digusur oleh badai kecongkakan penguasa dengan tembok-tembok keserakahan yang
menggerogoti hati dan pikirannya

Namun, di Rivo Torto
Ada keceriaan terpancar, kesederhanaan terungkap, kemiskinan yang menyalakan
tungku kemurnian hati dan ketaatan pada tempat yang sesungguhnya, pada
petak di lantai yang kau garis dengan tanganmu sendiri

Ya ....di Rivo Torto
Para peziarah dapat memetik buah dari pohon yang kau tanam,
lalu melepas penat perjalanan di bawah rindangnya dedaunan yang menyejukan.
jika senja telah menjemput di ambang barat, tidak seorang pun harus merasa takut
untuk tidak mendapat tempat guna meletakan tubuh

Kini masihkah RivoTorto menjadi Betlehem bagi saudara?
Kini masihkah Rivo Torto menjadi cita-cita bagi saudara?

Waktu yang akan menjawabnya!!!

PUISI

Dengan Jubah Lusuh
Oleh Sdr. Kris Tampajara,MTB
Tinggal di Kom. Singkawang


Kau berkeliling di kota yang angkuh dengan tembok merah
Lalu berdendang ria bersama sahabat dalam pelukan dewi malam nan cantik
Alunan suaramu selalu menggairahkan para taruna kota
Yang kerap melongokan kepala pada jendela-jendela ketika rombonganmu menyusuri jalan
malam yang terlalu larut

Dan sorak-sorai memenuhi sudut-sudut kota menyambut tembang lawas yang kau lantunkan dan
selalu menggaduhkan suasana kota yang telah terlelap

Dengan darah muda kau menuju Perugia untuk mengabdi pada kota Asisi
Di dadamu bergelora semangat ksatria yang terlalu rapuh untuk diselamatkan pada hari
kemenangan, sebab kau meringkuk tak berdaya pada keangkuhanmu sendiri

Dengan tubuh yang rapuh kau kembali ke Assisi untuk melepas baju jirah yang terlalu berat untuk
kau kenakan, mungkin kepulanganmu lebih cocok sebagai perjalanan kembali pada rumah batinmu dan bergelut dengan suara-suara yang menggema di sudut-sudut ranjang ketakberdayaan

Di kala itulah kau bergumam pada dirimu sendiri, metanoia.....metanoia.....di jendela rumah
sembari memandang langit biru nan cerah

Ada keyakinan, namun kerap kali diselimuti keragu-raguan pada hari depanmu
Mungkin di San Damianolah tumbuh keberanian untuk berteriak lantang
metanoia...metanoia....yang menggema di seluruh kota Assisi. Kepahitan menjadi kemanisan,
keragu-raguan menjadi keyakinan, kekayaan menjadi kemiskinan, ksatria menjadi hamba,
kemewahan menjadi kesederhanaan. Oh.....inilah yang telah lama terpendam pada ladang Assisi
Katamu ketika kau mengikat jubah lusuh dengan tali ketaatan pada tuan puteri kemiskinan yang selalu memesona jiwamu

Kini kau tidak lagi berkeliling kota dengan membusungkan dada lalu membuat Assisi terjaga pada larut malam oleh sorak-sorai mabuk pestamu yang nyentrik

Namun dengan jubah lusuh yang lebih mendekati jorok, kau membuat Assisi terperangah
Dengan alap santunmu yang lebih mendekati kemanjaan, kau membuat puteri Assisi terpesona

Ya.....dengan menjadi hamba, para ksatria kota telah kau taklukan dengan kelembutan jiwamu

CERPEN

PESAN TERAKHIR
Angela Marici, FMM



Kriiiing..kriiiing...kriiing........……Kring….
”Haloooo…,dengan Fery di sini ‘met siang…”
“Hai, Fer, ini aku, Ayu”, dengan nafas terengah-engah. “Ada kabar buruk untukmu “.
“Kabar buruk…., kabar buruk apa?”,tanya Fery dengan suara menekan dan mulai terasa jantungnya berdetak kencang. Ia berharap Ayu hanya menggodanya saja, tetapi dari suaranya sepertinya ada sesuatu yang serius yang mau disampaikan Ayu. “Sorry ya Fer…aku terpaksa memberitahumu by telpon”, jawab Ayu dengan suara setengah nervous. “Akuu..aku..cuman mau memberi kabar kepadamu kalau ….” Tiba-tiba Ayu terdiam, perasaanya kalut, tak tega rasanya harus memberitahu Fery bahwa dia telah kehilangan orang yang dia kagumi dan sekaligus dia hormati. Fery pasti shock kalau kuberitahu pastor Fransiskan itu telah meninggal dunia semalam, ditabrak lari oleh sebuah mobil buggy yang berlari kencang menghindari lampu merah. Apalagi, karena Pastor Fransiskan itu, Fery telah banyak berubah selama tiga tahun belakangan ini. Mereka menjadi sahabat yang sangat akrab hingga Fery selalu menyapanya dengan panggilan sayangnya “Father”. Bagi Fery, pastor tua asal negeri kanguru itu adalah tokoh inspiratifnya di zaman edan ini.

“Haloo…Ayu….kenapa diam, kabar buruk apa….? Kamu jangan bikin aku penasaran dong, aku sahabatmu. Aku siap mendengarkan kabar apapun, bahkan yang terburuk sekalipun.”
“Oke....Fer,”jawab Ayu dengan suara yang lebih tenang dan hati-hati. “...Father Nasarius-mu meninggal dunia semalam, beliau ditabrak”, jelas Ayu pelan.
“Apaaaa...O...tidaaaak. Aku pasti salah dengar Ayu! Kamu pasti bohong. Aku tahu hari ini tanggal 1 April dan itu tidak berarti kamu harus bohong seperti ini,”teriak Fery keras. “ ini benar Fer, jenazahnya sudah berada di gereja St. Antonius,” tambah Ayu dengan suara lebih lembut lagi. Misa requiem Pkl.12.00 siang. Segera datang ya Fer, aku tunggu kamu di sana.

********
Hampir satu tahun lamanya, setiap akhir pekan kubur Father Nasarius menjadi acara kunjunganku. Waktu yang cukup panjang untuk bergulat menerima kenyataan kalau dia telah dipanggil selamanya. Kalau ia telah pergi cuti abadi bersama sang kekasihnya di Surga. Aku selalu saja mengenangnya. Ia telah meletakkan satu memo kecil -sebuah catatan kaki di sudut hatiku-. Ada sekian banyak hari telah kami lalui bersama. Bulan-bulan dan tahun-tahun yang indah telah kami lewati dan setiap perjumpaan selalu saja ada yang menggores dan menggugah hati nuraniku dan meningkatkan cita rasa iman katolik di dalam hatiku. Father Nasarius, sosok yang selalu menampilkan matahari dikala hatiku gelap berawan. Ia tak pernah bosan untuk memapahku bila aku jatuh dan jatuh lagi dalam lembah keputusasaan. Kala lalulintas pikiranku macet ia selalu membimbingku untuk menemukan lampu hijaunya. Mengenangnya adalah adalah bagaikan memiliki sebuah kaset rekaman. Kapan dan di mana pun aku bisa memutarnya di kepalaku. Ia pernah mengajariku untuk untuk mengalami cinta persaudaraan dan kekeluargaan di dalam sebuah panti asuhan. Aku menemukan kecintaannya yang besar pada mereka yang tidak mengalami keutuhan rumah tangga seperti yang aku alami. Ketika kutanya apa alasannya hingga Father melakukan semuannya itu, “Apakah karena jadual ataukah sebuah keharusan sebagai seorang Fransiskan?” Jawabannya selalu sederhana dan tanpa nada gusar,”Semua untuk Yesus. Kita dipanggil untuk hidup sebagaimana Yesus hidup”. Sungguh jawaban yang tidak bertele-tele. Banyak hal yang ku-pelajari dari padanya bukan saja yang keluar dari perkataannya tetapi juga dari tindakan yang penuh kesederhanaan yang dibaluti rasa cinta yang tulus. Semangat kerja keras dan kerendahan hati, sangat memancar kuat dari dalam dirinya. Bukan suatu tindakan yang dibuat-buat.

Sore itu rupanya perjumpaan yang terakhir di pendopo pastoran, sebelum maut menjemputnya. Saat itu aku bertemu dengan Father hanya untuk sekedar sharing akan ketertarikanku pada hidup yang digulatinya dan identitasnya sebagai seorang Fransiskan. Ketika berjalan hendak pulang, ia merangkul pundakku dengan hangat seperti seorang ayah dan berbisik, “Fery, aku tak punya sesuatu yang istimewa untukmu. Ini ada kalung Tau untukmu, memang kelihatannya sudah usang, tapi.... ini telah menjadi saksi bisu akan perjalanan dan perjuanganku selama lima puluh tahun sebagai seorang Pastor dan religius Fransiskan. Bagiku orang yang punya hati untuk mencintai yang pantas memakai kalung Tau, dan kau telah pantas untuk memakainya. Cintai apa saja yang ada di muka bumi ini termasuk yang paling dekat denganmu yaitu kelemahan dan kerapuhanmu. Kau tak mesti masuk biara Fransiskan untuk menghayati semangat kefransiskanan. Tetapi bukan berarti engkau Fransiskan tulen hanya dengan memakai kalung Tau ini, kalau ternyata hidup, perkataan, dan tingkah lakumu tidak mencerminkan pribadi yang Fransiskan.”, katanya sambil menepuk pundakku. “Kenakanlah kalung Tau ini, sebagai ikon yang mengendalikan seluruh perjalanan hidup dengan segala keinginanmu yang tidak beraturan. Lakukanlah segala sesuatu yang benar dan baik dengan hati yang penuh cinta. Saya yakin dan percaya kau tak akan kembali lagi ke duniamu yang dulu. Untungnya kau belum terlalu jauh terjerumus dalam dunia obat-obat terlarang itu. Tak ada kata terlambat untuk bertobat dan berubah”. “Fery, kau anak yang baik. Jalan hidupmu masih membentang luas ke depan. Apapun pilihan hidupmu kelak lakukan yang terbaik”. “Aku selalu mendoakanmu. Usiaku sudah lanjut dan aku tak bisa mendampingimu terus. Berdoalah bila kau mengalami kesulitan dan pandanglah kalung Tau ini bila hatimu mulai menyesatkan engkau pada hal-hal yang tidak berguna,” pesannya lembut. “Father, terima kasih ya,” kataku sambil mengangguk pelan.

Pagi ini, di dalam kamarku tidak sadar aku meneteskan air mataku mengingat pesan terakhir Father. Father tidak pernah memaksaku tetapi selalu berharap agar aku melakukan yang terbaik setiap harinya. Kulihat mataku di cermin yang memerah karena menangis. Kubasuh lagi mukaku di wastafel yang ada di sudut kamarku. Tiba-tiba kudengar ada yang mengetok halus di pintu kamarku. Tok ...tok..tok..”Siapa?” jawabku pelan sambil melap mukaku. “Selamat pagi Pater Fery, maaf saya ini Frater Edo, hanya mau mengingatkan Pater bahwa Misa perayaan Panca Windu hidup Imamat Pater akan diundur sepuluh menit, karena Mgr. Alex masih dalam perjalanan”. “Oke...terima kasih Frater atas infomasinya, saya akan tunggu di samping sakristi”, jawab Pater Fery tanpa membuka pintu kamarnya. “ Terima kasih Father, untuk semua cintamu yang memekarkan hidup panggilanku,” ucap Pater Fery dengan perasaan bahagia.

SAUDARA KELANA

RELIGIUS DI GELANGGANG POLITIK


Philipina sudah menjadi contoh klasik untuk keterlibatan Gereja dalam arena politik yang berhasil. Presiden Ferdinand Marcos dipaksa turun oleh kekuatan yang disebut “People Power”. Di belakang massa rakyat ada Kardinal Jaime Sin. Dan di barisan paling depan ada biarawati. Mereka berunjuk rasa untuk menggulingkan Marcos dengan menghadapi tank-tank militer yang menghadang mereka. Militer tak berdaya menghadapi barisan perempuan berkerudung yang maju hanya dengan merentang spanduk.
Presiden Gloria Arroyo Macapagal rupanya sekarang juga sedang digoncang. Politisi mau mendorong dia sampai ”lengser”. Tetapi siapa yang bisa mengerahkan massa? Mereka kembali memandang kepada para Uskup dan pasukan religius yang dianggap punya ”power” untuk menggerakkan massa. Ternyata Uskup-Uskup hanya menghimbau pemerintah agar bersih dan adil. Mereka tidak turun ke jalan, juga tidak mengerahkan umatnya untuk itu.
Apakah para pemimpin Gereja itu berpolitik? Memang! Baik Kardinal Sin di zaman Marcos maupun Uskup-Uskup Philipina di zaman Arroyo berpolitik. Dan mereka semua terkena kritik. Kardinal Sin dianggap terlalu jauh masuk gelanggang politik praktis. Sedangkan Uskup-Uskup di zaman Arroyo dikritik sebagai yang berpolitik dari ”menara gading” tanpa ikut merasakan bau keringat masyarakat yang berjuang melawan korupsi. Siapa yang benar?
Politik, kata orang, adalah art, kiat atau lebih tepat seni. Sebagai seni, tentu ada keindahannya; dan sebagai kiat ada ketrampilan dalam mengatur tindakan agar tepat dan bermanfaat. Maka politik adalah seni mendayagunakan komponen-komponen masyarakat, agar mendatangkan manfaat untuk seluruh warga masyarakat. Politik dalam arti itu tentu baik dan indah. Tetapi kalau para politisi justru menyalahgunakan komponen masyarakat hanya untuk mencari kursi dan duit maka politik menjadi buruk dan busuk. Semua warga masyarakat punya hak politik untuk membetulkan arah permainan politik agar tetap terfokus pada kebaikan warga masyarakat seluruhnya. Juga orang-orang Gereja, termasuk para Fransiskan, punya hak untuk itu, lebih-lebih untuk mengarahkan para politisi kepada kepentingan warga masyarakat yang paling tidak berdaya.
Pertanyaannya ialah cara manakah yang boleh dipakai? Menyerukan moral politik? Menggerakkan massa? Menebar spanduk dengan iringan yel-yel tolak itu, turunkan itu? Khusus untuk biarawan-biarawati, pertanyaannya ialah cara mana yang sesuai dengan panggilan hidup mereka?
Cara apa pun yang dipakai, kalau tujuannya untuk menjamin tercapainya kesejahteraan masyarakat kecil, tindakan politik kita pasti baik. Untuk itu, para Fransiskan harus menyerukan moral politik, bahkan boleh turut berjemur diri di Bundaran Hotel Indonesia untuk menentang politisi yang korup.
Tetapi kalau suara politik kaum religius hanya untuk pamer kuasa atau, lebih buruk lagi, merebut kuasa, aksinya tidak lagi mengungkapkan panggilannya. Dan ancaman itu ada, bukan dari polisi atau dari Badan Intelijen Negara (BIN), tetapi dari diri kita sendiri. Mereka yang sekarang tampil sebagai pendekar HAM sedang naik daun. Dengan klaim bahwa suara mereka adalah “voice of the voiceless”, mereka mudah mendapat sponsor untuk menyebarkan suaranya melalui berbagai media sampai ke dunia internasional. Karena itu mereka mempunyai kekuatan, memiliki “power” yang membuat para penguasa takut dan gentar.
Itulah ancaman pertama bagi orang Gereja yang terjun di gelanggang politik. Mereka mendapat “kuasa”. Padahal kuasa dan kekorupan bersahabat akrab. Orang yang punya kuasa gampang melorot menjadi bejat. Ancaman itu menjadi kenyataan kalau kekuasaan didukung popularitas yang mendatangkan arogansi yang membuat telinga orang menjadi tuli sehingga tidak lagi mampu mendengarkan orang lain.
Ancaman kedua ialah perpecahan. Politik gampang menjadi kekuatan yang membawa perpecahan. “Kita” terbagi menjadi “aku” – “kau” dan “kami” – “kita”. Maka mereka yang merasa dipanggil sebagai pembawa damai patut waspada. Sebab menjadi pembawa damai dan sekaligus pembawa perpecahan rasanya sukar dipadukan, walaupun belum tentu jahat.
Ancaman ketiga dan paling serius ialah pendangkalan hidup keagamaan kita. Semarak penampilan agama dalam gelanggang politik bisa membuat agama kelihatan relevan dan bermakna. Tetapi agama bukan hura-hura. Nasihat-nasihat Injil yang mau dijadikan pedoman hidup kaum religius bukanlah nilai-nilai yang bisa meresapi orang melalui unjuk rasa dan unjuk kuasa. Semakin kuat dan kuasa penampilan luar kita, kita cenderung mengukur mutu hidup kita dari “aspek kulitnya dan bukan isinya” dengan akibat hidup kita menjadi dangkal.
Apa yang kita butuhkan untuk tidak jatuh dalam bahaya itu? Keheningan! Kita perlukan keheningan agar kita bisa menemukan tempat berpijak dalam lubuk hati kita sendiri. Dari sanalah memancar mata air keadilan dan damai yang tidak bisa dihasilkan oleh ribut-gaduh dan hura-hura gelanggang politik.

Link Teman-Teman