Headline Majalah PERANTAU

Pencarian Lokal

Custom Search

Titipan Link Teman

Thursday, December 10, 2009

KESETIAAN YANG KREATIF AKAN KHARISMA: PERSAUDARAAN SEMESTA DAN TERHADAP GEREJA ( ANGBUL 12)

Renungan Adven 2009
By. Ferry Suharto OFM


AngBul XII

ž SIAPA DARI ANTARA PARA SAUDARA YANG ATAS DORONGAN ILLAHI MAU PERGI KE TENGAH KAUM MUSLIMIN DAN ORANG TAK BERIMAN LAINNYA HENDAKNYA MEMINTA IZIN UNTUK ITU KEPADA MINISTER PROVINSINYA.....
ž ....SUPAYA DENGAN SELALU PATUH DAN TUNDUK PADA KAKI GEREJA KUDUS ITU DENGAN TETAP TEGUH DALAM IMAN KATHOLIK KITA MENGIKUTI KEMISKINAN, KERENDAHAN SERTA INJIL SUCI TUHAN KITA YESUS KRISTUS YANG TELAH KITA JANJIKAN DENGAN SEBULAT HATI.

Peta AngBul XII
ž AngBul XII bagian kedua yang berhubungan dengan AngBul 1 bagian pertama dengan jelas menyadarkan kita bahwa inti hidup religius atau hidup yang kita janjikan kepada Allah adalah: mengikuti/menepati Injil Suci yakni pribadi Tuhan Yesus sendiri. Atau dengan kata lain Tuhan Yesus Kristus menjadi jalan atau pola hidup yang harus kita pakai sebagai pathokan hidup/way of life kita.
ž Way of life ini secara fransiskan nampak dalam unsur kerendahan serta kemiskinan sebagai dimensi yang selalu memukau Fransiskus dan dilihatnya selalu ada dalam hidup pribadi Yesus Kristus. Itulah kharisma kita!
ž Hidup Injili yang berwarnakan kerendahan serta kemiskinan tersebut bisa terwujud hanya dalam koridor kepatuhan dan sikap tunduk pada kaki Gereja Kudus yang didasarkan atas iman katholik yang teguh. Kepatuhan atas dasar iman selain menjadi koridor sekaligus juga merupakan salah satu wujud hidup injili berwarnakan kerendahan dan kemiskinan tersebut.
ž Karena Gereja pada dasarnya adalah bersifat misioner maka seperti halnya Yesus mengakhiri Injil-Nya dengan peristiwa pengutusan “Pergilah ke seluruh dunia!” maka Fransiskuspun sejalan dengan hal itu ingin mengakhiri dan memahkotai hidup Injilinya yakni dengan “Pergi!” ke dunia nyata saat ini: sebuah dunia yang diwarnai dengan pluralisme: adanya manusia beragama lain (diwakili oleh Saudara Muslimin ) dan suatu dunia yang diwarnai dengan atheisme, agnostikisme dsb (yang diwakili oleh orang tak beriman lainnya) yang adalah tempat kita mewartakan Injil secara baru: praktek hidup injili yang berwarnakan kemiskinan dan kerendahan. Dalam hidup injili daya dorong dan daya gerak untu pergi haruslah bersumber dari Roh Kudus sendiri. Maka kepergian kita untuk berpraktek hidup injili hendaknya selalu atas dorongan ilahi.

Beberapa POINT PERMENUNGAN KITA
Antara kepatuhan dan kesetiaan
· hidup injili Fransiskus bersifat praktis, realis, tidak teoritis dan karenanya malah menjadi hidup, menyentuh perasaan, menggetarkan hati serta membumi.
· Kepatuhan dan ketundukan Fransiskus akan siapa dan apa saja termasuk pada Gereja bukanlah sebuah kepatuhan yang dibuat karena paksaan dari hukum dan aturan maupun pengkondisian dan tekanan dari luar namun sebuah sikap yang lahir dari keterpesonaan hati yang melihat dengan mata sendiri (batin dan jasmani) bagaimana Allah sendiri oleh terdorong karena kasih-Nya berkenan merendahkan Diri-Nya dan patuh pada ciptaan-Nya sebagai anak kecil mungil di palungan sempit.
Kesetiaan
ž Sikap tunduk dan merendah yang lahir dari gerak hati di kedalaman diri itulah yang disebut dengan kesetiaan. Kesetiaan adalah kepatuhan yang muncul dari dalam bukan karena tekanan dari luar. Maka kesetiaan merupakan sikap yang mewujudkan dengan amat jelas kepatuhan dan ketundukan pada Gereja Kudus atas dasar iman dan merupakan pelaksanaan paling kongkret janji hidup injili kita yang berwarnakan kemiskinan dan kerendahan.

SAGKI 2005
ž penghayatan keagamaan di Indonesia ini sering terwujud dalam bentuk kesalehan semu. Agama yang berciri membebaskan, tidak berfungsi secara maksimal. Hal ini terjadi karena agama dimanfaatkan untuk kepentingan politik dan bisnis. Juga adanya indikasi pendangkalan penghayatan: adanya jurang antara ibadah dan perwujudan iman. Lalu muncullah masalah Formalisme Agama sebagai salah satu persoalan bangsa Indonesia. Sehingga akhirnya Gereja Katolik (dan juga agama-agama lain) menjadi irelevan (tidak cocok, tidak nyambung, tidak match) dan insignifican (tidak punya makna) bagi bangsa kita.

MUARA FORMALISME
ž Muaranya yang paling berbahaya adalah ketika orang-orang beragama itu sudah tidak lagi memiliki kepekaan akan kemanusiaan sehingga dengan mudah berdasar isu agama lalu mengorbankan nyawa orang lain seperti terjadi di Poso dan juga di daerah-daerah lainnya di Negara kita.

Lilin 1 lilin para nabi
ž "Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku. Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan me-malingkan muka-Ku, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah. Basuhlah, bersihkan-lah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda! ( Yes 1:11-17 ).

Refleksi
ž Formalisme agama terjadi ketika agama hanya menjadi ageman (pakaian) bukan sesuatu yang muncul karena gerak hati. Apakah hidup religious kita selama ini juga hanya sebagai jubah saja padahal habitus non facit monachum?
ž Apakah cara bicara kita kepada dunia baik secara lisan dan tulisan maupun dalam bahasa tubuh melalui perilaku sehari-hari lebih memakai cara-cara yang memisahkan kehidupan kita dengan realitas masyarakat sehingga kita semakin mapan dan aman dalam hidup membiara tapi tak pernah punya kesan, kepedulian apalagi keterlibatan yang membuat hidup kita menjadi pesan praktis yang member inspirasi dan animasi bagi kehidupan banyak orang teristimewa yang kita layani?
ž Setiakah aku dengan hidup injili yang menjadi perwujudan janjiku atau aku lebih jatuh pada kepatuhan dan ketundukan palsu yang serba tenang dan tenang namun memendam luka dan menunggu kesempatan menjadi liar.
ž Apakah refleksi, penemuan makna, gerak hati, kepedulian, solidaritas masih menjadi kebutuhan hidup kita atau kita sudah hanyut begitu saja akan tradisi, hukum, kebiasaan, ritual, acara harian, tugas, perintah pimpinan dsb.

Kesetiaan yang kreatif: Kreativitas Injili
· Kreatifitas injili yang dipergunakan Fransiskus dan saudara-saudaranya dalam mewartakan Injil kedamaian amatlah jelas: ingat saja cara dia berhasil mendamaikan Uskup dan Walikota Assisi yang sedang saling bertikai. Fransiskus berbuat dengan cara yang sederhana dan cerdas; dia tidak melibatkan diri dalam masalah-masalah ekonomi dan kekuasaan yang telah merenggangkan mereka, dia tidak menganggap diri telah menemukan solusi “politis” atas pertikaian itu; dia hanya mengundang mereka untuk mendengarkan madah, sebuah lagu yang lirik dan nadanya telah ia gubah. Kreatifitas yang muncul dari bakatnya sendiri itu menyarankan cara untuk menolong mereka memecahkan perbedaan-perbedaan mereka. Apa yang lebih efektif daripada music dan lagu yang menggerakkan perasaan dan menyapa sampai ke hati? “Logika bakat, anugerah jelaslah muncul sebagai sebuah alternatif terhadap logika harga, keuntungan, kegunaan dan kekuasaan yang mendominasi dunia waktu itu dan kiranya jug waktu sekarang ini.

LILIN 2: YOHANES PEMBAPTIS
ž Gembirakah Saudara dengan hidup dan pelayanan saudara selama ini? Atau Saudara hanya sampai pada kesenangan dan tertawa sesaat yang sebenarnya hanya menjadi pelarian dari sakit hati, rasa terbebani, luka batin yang tak mau Saudara lihat dan rasakan serta Saudara tolak sampai saat ini?
ž Pelayanan kita dan seluruh hidup kita sebagai seorang religius membutuhkan suatu sikap “lebih” yang baru dapat diberikan oleh orang yang kreatif sehingga mengajar menjadi lebih dari sekedar mentransfer ilmu pengetahuan, pastoral lebih dari sekedar ketrampilan menjawab pertanyaan, menghibur dengan kata-kata manis, dan mengorganisasi paroki dengan teori-teori managerial modern dan beribadat harian serta merayakan ekaristi lebih dari sekedar melaksanakan liturgi tetapi merayakan hidup Allah yang berkenan tinggal bersama kita dan kebersamaan dengan-Nya itu kita bagi dalam kepedulian dan solidaritas sehari-hari dengan siapa dan apa saja yang dianugerahkan Allah pada kita. Sudahkah kita memberi sentuhan “lebih” itu?
ž Apakah kita sudah berjuang melaksanakan karya-karya yang dipercayakan kepada kita dengan menyertakan secara optimal seluruh bakat dan talenta kita? Atau kita malah merasa bakat dan talenta kita tak tersalurkan dalam karya yang dipercayakan kepada kita? Apakah itu karena sungguh bakat kita bertolak belakang dengan karya kita atau sebenarnya kita yang malas menemukan celah-celah kreatifitas bagi pemenuhan bakat dan talenta kita?

Kesetiaan yang memperkaya Gereja dengan kharisma
· “Sesudah Tuhan memberi aku sejumlah saudara, tidak seorangpun menunjukkan kepadaku apa yang harus kuperbuat; tetapi Yang Mahatinggi sendiri mewahyukan kepadaku bahwa aku harus hidup menurut pola Injil Suci. Aku pun menyuruh tulis hal itu dengan singkat dan sederhana dan Sri Paus mengukuhkannya untukku.” ( Was 14).
KREATIFITAS INJILI BAGAI AIR YANG MEMENUHI GEREJA
ž Keberanian sebagai daya dorong yang berpangkal pada peneguhan Gereja, bersatu pada gerak Roh yang merendah yang menjadikan kharisma bukan sebagai kuasa tetapi sebagai kekuatan. Pengalaman Fransiskus akan bisikan Roh dalam dirinya yang tersirat dalam kata-katanya, “Tuhan sendiri mengatakan kepadaku …” tidak membuatnya menjadi sombong dan memakai pengalaman itu untuk memaksa yang lain mengikuti kemauannya tetapi justru mendorongnya untuk mengajak setiap saudara menyadari akan kharisma pribadi mereka.
ž Hormat akan karya dan gerak Roh dalam setiap saudara amat sangat kuat mewarnai peraturan hidup yang dibuatnya (bdk. AngBul XII, AngTBul II: 1; XVI: 3 ) Hal itu membuat Fransiskus berani mencipt5akan struktur baru dalam ordonya yang kiranya pada abad XIII merupakan struktur demokratis pertama dalam kehidupan masyarakat Eropa setelah tumbangnya demokrasi Yunani yakni ketika hegemoni pimpinan tarekat religius dipatahkan dengan menempatkan kapitel sebagai wujud nyata persaudaraan dijadikannya sebagai instansi tertinggi dalam Ordo karena keyakinannya bahwa dalam kapitel di mana setiap saudara atas dorongan Roh Kudus berbicara dan berikhtiar menemukan jalan yang terbaik bagi ordo di situ Roh Kudus sebagai minister jendral ordo lebih dinampakkan.
ž Banyak konflik terjadi di Gereja dan diselesaikan secara tak bijaksana misalnya dalam kasus inkuisisi lebih karena Injil dipakai pejabat gereja untuk menguasai dan bukan untuk memahami.
ž Mawas Diri dengan tidak menghakimi sebagai batang airnya. Air yang mengalir akan membersihkan saluran bila dalam air itu sendiri ada kepekaan akan kekeruhan dalam dirinya dan berupaya bersama-sama menempatkan kotoran yang membuatnya keruh tersebut pada tempat yang tak mengganggu aliran air selanjutnya entah dengan menaruhkan perlahan-lahan ke pinggir atau menenggelamkannya ke dasar. Itulah sikap mawas diri yang tidak menghakimi. Sebab ketika kita menghakimi maka kita membuat kesalahan orang itu menjadi bahan utama perhatian kita yang kadang menghalangi kita akan kenyataan bahwa air pada dasarnya jernih kalau tak ada lumpur yang bercampur di dalamnya.
ž Setiap orang tanpa kita hakimi, tanpa kita marahi pasti sudah menyadari kekeliruannya, hanya biasanya ia berusaha menutupinya dengan menyangkalnya sekuat tenaga. Semakin kita memperlihatkannya semakin ia menyangkalnya karena pada dasarnya ia tak mau hal itu terlihat ada padanya. Maka alih-alih menguber-uber lumpur dan mengaduknya sehingga tampak semakin keruh airnya Fransiskus mengajak kita untuk menyaring air yang bersih dan tak memperhatikan lumpur dan kotoran yang dengan sendirinya kalau tak kita perhatikn akan menyingkir dan akan tenggelam. Orang yang mawas diri akan lebih mudah memahami yang lain sementara orang yang menghakimi biasanya hanya mencari kompensasi akan kekecewaan akan dirinya yang ternyata berdosa juga dan mencoba lari dari kenyataan itu dengan membesar-besarkan dosa sesama agar merasa sedikit aman karena keyakinan semu bahwa dosaku nggak sebesar orang itu padahal siapa tahu besar kecilnya dosa orang?
ž Dalam Fioreti 26 dikisahkan bagaimana 3 penyamun itu bertobat karena dimarahi saudara penjaga pintu tetapi karena melihat Fransiskus yang mawas diri akan kesalahannya dan mohon maaf kepada mereka.

TUJUAN
ž Kehendak baik sebagai tujuan alirannya. Warta malaikat kepada para gembala,” Gloria in altissimis Deo, et in terra pax hominibus bonæ voluntatis” sungguh terlihat dalam hidup Fransiskus, terutama ketika ia datang kepada kaum muslim dengan tidak membawa senjata sama sekali karena memang niatnya baik yakni tidak untuk berperang melainkan mewartakan kebaikan Allah maka benteng kebencian orang muslim pun gampang untuk dihancurkan dan terjalinlah persahabatan yang tulus.

LILIN 3: SANTO YUSUF
ž Apakah yang sebenarnya menjadi inner spirit dalam kedalaman hati kita? Bisikan Roh yang kita tanggapi dalam kesediaan untuk bergerak atau kebutuhan-kebutuhan psikologis kita yang bagai kabut sutra ungu mengaburkan bisikan Roh dalam hati kita dan menggantikannya menjadi bisikan ketakutan, bisikan kegelisahan, bisikan kehausan kehangatan dan bisik-bisik lainnya yang menjadi bisa iblis dalam hidup kita yang mengalir meracuni dan menghitamkan aliran air hidup kita.
ž Apakah inner spirit dalam hati kita dapat mengalir karena memiliki energi, batang air dan tujuan yang tepat yakni gerak Roh Kudus yang dimotori oleh keberanian yang membuat kharisma mampu memahami dan bukan menguasai? Batang air yang tepat pada mawas diri yang tak menghakimi dan tujuannya kehendak baik yang mengalirkan damai sejahtera.

Kharisma Persaudaraan Semesta sebagai Dimensi Misioner khas Fransiskan
· Persaudaraan semesta lahir ketika Allah karena terdorong oleh kasih berkenan merendahkan diri-Nya dan turun ke bumi menjelma menjadi manusia. Perendahan diri Allah memperoleh wadahnya dalam diri Maria yang menyatakan dirinya sebagai hamba yang siap sedia melaksanakan apa yang dikehendaki Allah yang dikandungnya. Yusufpun mengimbangi penghambaan Maria dengan ketulusan hati dan kehendak baiknya mau merendahkan diri menjadi suami Maria meski anak yang dikandung Maria bukan dari benihnya.
· Dengan demikian jelas bahwa setiap pribadi baik itu saudara manusia, hewan dan bintang terangkum dalam persaudaraan semesta karena mengikuti gerak Allah yang merendahkan diri yang akhirnya membuka pintu rekonsiliasi Allah dan ciptaannya dalam harmoni kesatuan dalam kesederhanaan dan kerendahan sejati.
· Hanya dalam gerak perendahan diri kita menyadari bahwa bukan hanya kita yang hidup di dunia ini tetapi juga ada manusia lain, mahluk lain dan kita menjadi bagian di dalamnya membentuk suatu harmoni alam. Kesadaran akan ada yang lain yang juga mempunyai hak hidup yang sama bahkan juga menjadi bagian dari penentu hidup kita sebab kalau ia punah kita ikut musnah membuat kita sadar untuk mau tak mau harus menjalin solidaritas yang menghasilkan jejaring kasih yang akhirnya melintasi pelbagai batas-batas: agama, bangsa, suku, etnis, bahasa, bahkan batas manusia, mahluk hidup, abiotik dan biotik sampai batas waktu: kematianpun rubuh dalam jejaring persaudaraan kini karena iman dan harapan kan lenyap tetapi kasih kan abadi.
· Ia melintasi bukit bukit berbatu dengan hati-hati karena kasih kepada Yesus yang dalam Kitab Suci disebut sebagai batu karang. (2 Cel 165)
· Ia menganjurkan saudara yang berkebun untuk menyisakan sebidang tanah bagi tumbuhnya rumput dan tanaman lain yang tidak biasa ditanam di ladang dan kerap dipandang orang sebagai lalang yang bagi Fransiskus tak pernah dihakimi sebagai hama tetapi sebagai tanaman yang belum kita ketahui gunanya ( 2 Cel 165 )
· Cacing diambilnya dari jalan agar tak diinjak-injak karena ingat akan Yesus yang dalam mazmur dinubuatkan sebagai cacing (Mzm 22:7 bdk. 1 cel 80).


LILIN 4: BUNDA MARIA
Bunda yang menjadi teladan kesempurnaan orang-orang Kristiani

Sunday, September 27, 2009

What is Carlisle Medical Journal?

Carlisle Medical Journal is a very unique, compact, and user friendly medical journal that can be used to assist anyone in organizing and recording their own medical history. The journal is divided into 9 customized sections. Each multi-colored tab contains the title for each section. The contents of the book fits into a three ring customized binder approximately 9" x 6". Simply fill in the blanks to record important information about your family medical tree; doctors and specialist information; medicines used; allergic reactions; appointments; medical test/ results; surgeries and hospital stays; and journaling your thoughts and experiences. Having access to all this information in one centrally located place can be very helpful to take with you each time you visit any doctor. It would also be helpful to a friend or relative during an emergency situation to have all of your medical history contained in one place.

Saturday, May 2, 2009

DINAMIKA

Penolakan Pendirian PLTN
Dies Natalis STF Driyarkara ke-39


Efek negatif dari keberadaan PLTN lebih banyak dan mengerikan dibandingkan dengan keuntungan yang bakal dinikmati masyarakat.


DALAM kemelut protes masyarakat akan kebijakan pemerintah khususnya PLN yang melakukan pemadaman listrik di Pulau Jawa dan Bali akhir-akhir ini dengan alasan krisis energi, menguatlah kembali kontroversi seputar rencana pemerintah mendirikan PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) di Semenanjung Muria.
PLTN sangatlah diperlukan oleh negara kita, demikian asumsi pemerintah yaitu, dengan pertimbangan bahwa energi nuklir diperlukan demi mendukung keamanan pasokan energi jangka panjang serta pelestarian lingkungan, maka sejak 2004 pemerintah menghidupkan lagi rencana pembangunan PLTN Fissi (Pembelahan inti-inti atom) di Semenanjung Muria. Rencana itu sendiri sudah dimulai sejak 1974, namun diambangkan 1996 menyusul protes keras masyarakat. Kemudian 2006 pemerintah mengeluarkan PP no. 5 tahun 2006 yang menetapkan kontribusi sumber-sumber energi alternatif minimal 5% termasuk energi nuklir, dan PP no. 43 tahun 2006 tentang Perizinan Reaktor Nuklir. Tender direncanakan berjalan tahun 2008 dan tahap konstruksi direncanakan 2010/11. Di masyarakat sendiri tetap terdapat suara-suara yang menentang keras rencana pemerintah tersebut. Ini dikarenakan ancaman bahaya PLTN lebih besar dibandingkan dengan keuntungan yang diperoleh. Selain itu tanah air kita sangatlah kaya akan berbagai sumber energi alternatif yang terbarukan yang lebih aman dan menghasilkan energi yang besar pula seperti panas bumi (geothermal), tenaga angin, sinar matahari, tenaga air, gelombang laut, bioenergi-biofeul dan biogas, dsb.
Desakan penolakan itu tak urung semakin menguat tatkala forum Masyarakat Peduli Bahaya PLTN yang terdiri dari berbagai tokoh dengan latar belakang disiplin ilmu pendidikan yang berbeda-beda, mengeluarkan pernyataan di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Rawasari, Jakarta Barat, (Sabtu, 23/2) yang isinya mendesak pemerintah membatalkan rencana pembangunan PLTN Semenanjung Muria.
Lebih lanjut, dalam kata sambutannya, Ketua STF Driyarkara, Pastor Dr Eddy Kristiyanto OFM, memaparkan bahwa forum tersebut diadakan dalam rangka Dies Natalis ke-39 STF Driyarkara. Forum tersebut merupakan tindak lanjut dari berbagai forum dalam menanggapi rencana Go Nuclear pemerintah yang sudah diadakan oleh berbagai pihak seperti Univ. Soegijapranata, Suara Merdeka, Univ. Satya Wacana, Pemerintah Kudus, dsb.

Menolak Keras
Forum yang dihadiri lebih dari 200 orang dari berbagai latar belakang pendidikan tersebut juga menghadirkan warga tapak yang tempat tinggalnya terkena dampak rencana proyek PLTN pemerintah. Ketua PCNU Jepara, KH. Nuramin “Gus Nung” bertutur, “Secara lokal mereka sudah mengharamkan PLTN. Namun ketika kami mengecam rencana pemerintah ini, yang marah malah Ketua PBNU Pusat KH. Hasyim Musadi. Ini membuat kami bingung.”
Lebih lanjut, Ketua Paguyupan Masyarakat Balong Jepara, Sumedi dan Ketua Masyarakat Reksa Bumi, Lilo Sunaryo, berharap bahwa forum di STF Driyarkara tersebut dapat membangun suatu resolusi dalam menolak PLTN. “Masyarakat tapak dulunya bisa beraktivitas dengan nyaman, namun semenjak mendengar rencana pembangunan PLTN itu, masyarakat hidup dalam kecemasan,” tukas Sumedi.
Tak ketinggalan pula Ketua Asosiasi Ilmu Pengetahuan Indonesia-AIPI, Prof Dr Bambang Hidayat, turut mengkritik kebijakan energi pemerintah, “Untuk keamanan energi dan untuk keamanan umumnya, bioteknologi dapat dimanfaatkan. Pemerintah harus dapat mendayagunakan pembangunan biofuel,” paparnya.
Terkait dengan dasar pendapat penolakan para akademisi tersebut, Sosiolog UI, Dr Francisia SSE Seda, mengingatkan bahwa dasar argumen penolakan kita harus jelas. Dalam arti kita memberi solusi tetapi solusi itu harus jelas secara konkret dan spesifik. “Kita tidak ingin tentunya dikatakan oleh pemerintah bahwa kita memberi solusi, tetapi solusi kita abstrak,” ujar Francisia.
Sementara itu, Ketua Panitia Dies Natalis ke-39 STF Driyarkara, Pastor Dr Setyo Wibowo, ketika ditemui menjelaskan mengapa Dies Natalis kali ini, STF mengangkat isu PLTN. Menurutnya, awalnya STF bingung apa kira-kira tema khusus Dies Natalis STF Driyarkara kali ini. Kami ingin mengangkat isu lingkungan. Isu sampah sudah pernah diangkat lalu global warming baru-baru saja ada konferensinya kemudian tiba-tiba ada pemikiran bagaimana jika kita mengangkat isu PLTN di Semenanjung Muria yang kontroversi tersebut.

Sikap Gereja
Masih menurut Pastor Setyo, bahwa hingga saat ini pemerintah ternyata sudah mempersiapkan secara matang rencana pendirian PLTN tersebut. Bahkan Undang-Undangnya sudah dibuat. Tinggal menunggu kata ‘oke’ dari presiden maka rencana tersebut segera dieksekusi.
Masalahnya adalah bukannya kita menolak PLTN secara an sich, melainkan kebijakan publik di belakang keputusan tersebut sangatlah tidak masuk diakal untuk saat ini. Padahal negara kita sangat kaya akan berbagai sumber energi yang terbarukan terutama seperti Panas Bumi, Gelombang Air Bawah Laut, Angin, Panas Matahari dan sebagainya. Oleh karena itu alasan pemerintah yang mengatakan bahwa negara kita krisis sumber energi sangatlah tidak beralasan. Sumber Minyak Bumi, Batu Bara, dan Gas Alam kita juga sangat banyak, tetapi 70% dari itu malah kita ekspor dan hanya 30% saja yang kita konsumsi.
Jika pemerintah ngotot mendirikan PLTN maka berbagai masalah segera muncul bukan hanya masalah lingkungan, tetapi sosial, budaya, hukum bahkan etis-teologis. Pastor Setyo menambahkan bahwa selama ini yang paling getol bersuara untuk menolak rencana PLTN adalah saudara kita muslim khususnya NU dan beberapa denominasi Gereja Kristen. Sedangkan dari Gereja Katolik belum ada atau belum jelas. “Padahal cukup banyak orang Katolik yang terlibat dalam masalah tersebut,” ujarnya. Karena itu ironis sekali jika ternyata kesadaran sosial dan berbangsa kita sebagai umat Katolik ternyata masih kurang.
Kita berharap Gereja Katolik, khususnya KWI dapat bersuara sedikit dan berpihak pada rakyat. “Semoga KWI dapat terbuka. Jangan menutup mata terhadap masalah ini dan dapat melakukan kajian secara mendalam serta turut mendesak pemerintah untuk menolak rencana PLTN di Semenanjung Muria,” harap Pastor Setyo.

Infografis isi pernyataan Masyarakat Peduli Bahaya PLTN:

Setelah menimbang berbagai aspek yang terkait dengan rencana pembangunan PLTN Fissi di Semenanjung Muria, Masyarakat Peduli Bahaya PLTN menyatakan:

Masyarakat Peduli Bahaya PLTN mendesak pemerintah agar membatalkan segala upaya membangun PLTN Fissi di Semenanjung Muria dengan pertimbangan:
1. Risiko PLTN Fissi Muria terlalu tinggi.
2. Tidak ada urgensi untuk membangun PLTN Fissi Muria.
3. Banyak sumber energi alternatif ramah lingkungan untuk dikembangkan di Indonesia.
4. Adanya penolakan masyarakat, khususnya masyarakat setempat.


Ditandatangani di Jakarta, 23 Februari 2008, oleh:
Prof Dr Bambang Hidayat (Ketua Asosiasi Ilmu Pengetahuan Indonesia-AIPI), Prof Dr Damardjati Supadjar (UGM), Prof Dr Kautsar Anshari Noer (UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat), Prof Soetandyo Wignjosoebroto (Fisipol Univ. Airlangga), Dr Sonny Keraf (Wakil Ketua Komisi VII DPR bidang Energi), Prof Dr Toeti Heraty Noerhadi (Univ. Indonesia), Prof Dr Magnis Suseno (STF Driyarkara), Prof Dr Budi Widianarko (Toksikologi Univ. Soegijapranata), Dr Asep Saifudin (IPB), Dr Zainal Abidin Baqir (Kajian Religi dan Budaya UGM), Dr Sunarko (STF Driyarkara), V Hadiyono, SH, M.Hum (Hukum Univ. Soegijapranata), Ir G Heliarko(Tehnik Univ. Sanata Dharma), Dr Heru Nugroho (Sospol UGM), Prof Dr Saparinah Sadli (Kajian Wanita UI), Dr Francisia SSE Seda (Fisip UI), Prof Dr Sastrapratedja (STF Driyarkara), Ir Fabby Tumiwa (Institute for Essential Service Reform), Prof Dr Musdah Mulia (UIN/ICRP), Dr Iwan Kurniawan (STIE Nusantara, Fisikawan-Nuklir), Dr Karlina Supelli (STF Driyarkara, Dr JB. Hari Kustanto (STF Driyarkara).

Infografis tentang kawasan Muria bersama dengan inset Peta Semenanjung Muria:

Letak geografis kawasan Muria sangatlah unik, yaitu dilindungan semacam benteng alami, khususnya di Semenanjung Muria. Karena adanya benteng alami inilah maka Semenanjung Muria dipilih sebagai tempat pembangunan PLTN. Selain itu Muria terletak di pinggir laut yang dapat digunakan sebagai sumber air untuk mengoperasikan PLTN.
Kawasan Muria sendiri terletak di antara tiga kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yaitu, Kudus, Pati, dan Jepara. Kawasan ini mempunyai banyak potensi yang layak untuk dikembangkan, seperti pertanian, wisata religi, ekosistem, dan geowisata. Untuk lokal Kudus, kawasan Muria di Kecamatan Dawe dan Rahtawu, mempunyai potensi unggulan. Seperti keindahan alam di sekitar Colo (Dawe), lengkap dengan petilasan Sunan Muria. Sedangkan di Rahtawu, banyak prosesi religi yang unik.


Oleh: Maurits S. Rakadewa, OFM

PUISI

Rivo Torto
Oleh Sdr.Kris Tumpajara,MTB
Tinggal di Kom. Singkawang



Persis di lekukan batang sungai
Kau tanam pohon yang lebih menyerupai tanaman liar,
yang ranting-rantingnya tak beraturan
di kala Assisi terlalu gerah dengan tembok-tembok bata merah
yang kerap membangkitkan amarah

Mengapa kau tidak menanam di bukit Subacio dan memerah ternak para pertapa?
Mengapa kau tidak mengiba pada warisan menek moyangmu yang membuat garis
garis nasibmu lebih terjamin?

Persis, di lekukan batang sungai
Kau dirikan pondok yang lebih menyerupai gubuk liar dan sewaktu-waktu dapat
digusur oleh badai kecongkakan penguasa dengan tembok-tembok keserakahan yang
menggerogoti hati dan pikirannya

Namun, di Rivo Torto
Ada keceriaan terpancar, kesederhanaan terungkap, kemiskinan yang menyalakan
tungku kemurnian hati dan ketaatan pada tempat yang sesungguhnya, pada
petak di lantai yang kau garis dengan tanganmu sendiri

Ya ....di Rivo Torto
Para peziarah dapat memetik buah dari pohon yang kau tanam,
lalu melepas penat perjalanan di bawah rindangnya dedaunan yang menyejukan.
jika senja telah menjemput di ambang barat, tidak seorang pun harus merasa takut
untuk tidak mendapat tempat guna meletakan tubuh

Kini masihkah RivoTorto menjadi Betlehem bagi saudara?
Kini masihkah Rivo Torto menjadi cita-cita bagi saudara?

Waktu yang akan menjawabnya!!!

PUISI

Dengan Jubah Lusuh
Oleh Sdr. Kris Tampajara,MTB
Tinggal di Kom. Singkawang


Kau berkeliling di kota yang angkuh dengan tembok merah
Lalu berdendang ria bersama sahabat dalam pelukan dewi malam nan cantik
Alunan suaramu selalu menggairahkan para taruna kota
Yang kerap melongokan kepala pada jendela-jendela ketika rombonganmu menyusuri jalan
malam yang terlalu larut

Dan sorak-sorai memenuhi sudut-sudut kota menyambut tembang lawas yang kau lantunkan dan
selalu menggaduhkan suasana kota yang telah terlelap

Dengan darah muda kau menuju Perugia untuk mengabdi pada kota Asisi
Di dadamu bergelora semangat ksatria yang terlalu rapuh untuk diselamatkan pada hari
kemenangan, sebab kau meringkuk tak berdaya pada keangkuhanmu sendiri

Dengan tubuh yang rapuh kau kembali ke Assisi untuk melepas baju jirah yang terlalu berat untuk
kau kenakan, mungkin kepulanganmu lebih cocok sebagai perjalanan kembali pada rumah batinmu dan bergelut dengan suara-suara yang menggema di sudut-sudut ranjang ketakberdayaan

Di kala itulah kau bergumam pada dirimu sendiri, metanoia.....metanoia.....di jendela rumah
sembari memandang langit biru nan cerah

Ada keyakinan, namun kerap kali diselimuti keragu-raguan pada hari depanmu
Mungkin di San Damianolah tumbuh keberanian untuk berteriak lantang
metanoia...metanoia....yang menggema di seluruh kota Assisi. Kepahitan menjadi kemanisan,
keragu-raguan menjadi keyakinan, kekayaan menjadi kemiskinan, ksatria menjadi hamba,
kemewahan menjadi kesederhanaan. Oh.....inilah yang telah lama terpendam pada ladang Assisi
Katamu ketika kau mengikat jubah lusuh dengan tali ketaatan pada tuan puteri kemiskinan yang selalu memesona jiwamu

Kini kau tidak lagi berkeliling kota dengan membusungkan dada lalu membuat Assisi terjaga pada larut malam oleh sorak-sorai mabuk pestamu yang nyentrik

Namun dengan jubah lusuh yang lebih mendekati jorok, kau membuat Assisi terperangah
Dengan alap santunmu yang lebih mendekati kemanjaan, kau membuat puteri Assisi terpesona

Ya.....dengan menjadi hamba, para ksatria kota telah kau taklukan dengan kelembutan jiwamu

CERPEN

PESAN TERAKHIR
Angela Marici, FMM



Kriiiing..kriiiing...kriiing........……Kring….
”Haloooo…,dengan Fery di sini ‘met siang…”
“Hai, Fer, ini aku, Ayu”, dengan nafas terengah-engah. “Ada kabar buruk untukmu “.
“Kabar buruk…., kabar buruk apa?”,tanya Fery dengan suara menekan dan mulai terasa jantungnya berdetak kencang. Ia berharap Ayu hanya menggodanya saja, tetapi dari suaranya sepertinya ada sesuatu yang serius yang mau disampaikan Ayu. “Sorry ya Fer…aku terpaksa memberitahumu by telpon”, jawab Ayu dengan suara setengah nervous. “Akuu..aku..cuman mau memberi kabar kepadamu kalau ….” Tiba-tiba Ayu terdiam, perasaanya kalut, tak tega rasanya harus memberitahu Fery bahwa dia telah kehilangan orang yang dia kagumi dan sekaligus dia hormati. Fery pasti shock kalau kuberitahu pastor Fransiskan itu telah meninggal dunia semalam, ditabrak lari oleh sebuah mobil buggy yang berlari kencang menghindari lampu merah. Apalagi, karena Pastor Fransiskan itu, Fery telah banyak berubah selama tiga tahun belakangan ini. Mereka menjadi sahabat yang sangat akrab hingga Fery selalu menyapanya dengan panggilan sayangnya “Father”. Bagi Fery, pastor tua asal negeri kanguru itu adalah tokoh inspiratifnya di zaman edan ini.

“Haloo…Ayu….kenapa diam, kabar buruk apa….? Kamu jangan bikin aku penasaran dong, aku sahabatmu. Aku siap mendengarkan kabar apapun, bahkan yang terburuk sekalipun.”
“Oke....Fer,”jawab Ayu dengan suara yang lebih tenang dan hati-hati. “...Father Nasarius-mu meninggal dunia semalam, beliau ditabrak”, jelas Ayu pelan.
“Apaaaa...O...tidaaaak. Aku pasti salah dengar Ayu! Kamu pasti bohong. Aku tahu hari ini tanggal 1 April dan itu tidak berarti kamu harus bohong seperti ini,”teriak Fery keras. “ ini benar Fer, jenazahnya sudah berada di gereja St. Antonius,” tambah Ayu dengan suara lebih lembut lagi. Misa requiem Pkl.12.00 siang. Segera datang ya Fer, aku tunggu kamu di sana.

********
Hampir satu tahun lamanya, setiap akhir pekan kubur Father Nasarius menjadi acara kunjunganku. Waktu yang cukup panjang untuk bergulat menerima kenyataan kalau dia telah dipanggil selamanya. Kalau ia telah pergi cuti abadi bersama sang kekasihnya di Surga. Aku selalu saja mengenangnya. Ia telah meletakkan satu memo kecil -sebuah catatan kaki di sudut hatiku-. Ada sekian banyak hari telah kami lalui bersama. Bulan-bulan dan tahun-tahun yang indah telah kami lewati dan setiap perjumpaan selalu saja ada yang menggores dan menggugah hati nuraniku dan meningkatkan cita rasa iman katolik di dalam hatiku. Father Nasarius, sosok yang selalu menampilkan matahari dikala hatiku gelap berawan. Ia tak pernah bosan untuk memapahku bila aku jatuh dan jatuh lagi dalam lembah keputusasaan. Kala lalulintas pikiranku macet ia selalu membimbingku untuk menemukan lampu hijaunya. Mengenangnya adalah adalah bagaikan memiliki sebuah kaset rekaman. Kapan dan di mana pun aku bisa memutarnya di kepalaku. Ia pernah mengajariku untuk untuk mengalami cinta persaudaraan dan kekeluargaan di dalam sebuah panti asuhan. Aku menemukan kecintaannya yang besar pada mereka yang tidak mengalami keutuhan rumah tangga seperti yang aku alami. Ketika kutanya apa alasannya hingga Father melakukan semuannya itu, “Apakah karena jadual ataukah sebuah keharusan sebagai seorang Fransiskan?” Jawabannya selalu sederhana dan tanpa nada gusar,”Semua untuk Yesus. Kita dipanggil untuk hidup sebagaimana Yesus hidup”. Sungguh jawaban yang tidak bertele-tele. Banyak hal yang ku-pelajari dari padanya bukan saja yang keluar dari perkataannya tetapi juga dari tindakan yang penuh kesederhanaan yang dibaluti rasa cinta yang tulus. Semangat kerja keras dan kerendahan hati, sangat memancar kuat dari dalam dirinya. Bukan suatu tindakan yang dibuat-buat.

Sore itu rupanya perjumpaan yang terakhir di pendopo pastoran, sebelum maut menjemputnya. Saat itu aku bertemu dengan Father hanya untuk sekedar sharing akan ketertarikanku pada hidup yang digulatinya dan identitasnya sebagai seorang Fransiskan. Ketika berjalan hendak pulang, ia merangkul pundakku dengan hangat seperti seorang ayah dan berbisik, “Fery, aku tak punya sesuatu yang istimewa untukmu. Ini ada kalung Tau untukmu, memang kelihatannya sudah usang, tapi.... ini telah menjadi saksi bisu akan perjalanan dan perjuanganku selama lima puluh tahun sebagai seorang Pastor dan religius Fransiskan. Bagiku orang yang punya hati untuk mencintai yang pantas memakai kalung Tau, dan kau telah pantas untuk memakainya. Cintai apa saja yang ada di muka bumi ini termasuk yang paling dekat denganmu yaitu kelemahan dan kerapuhanmu. Kau tak mesti masuk biara Fransiskan untuk menghayati semangat kefransiskanan. Tetapi bukan berarti engkau Fransiskan tulen hanya dengan memakai kalung Tau ini, kalau ternyata hidup, perkataan, dan tingkah lakumu tidak mencerminkan pribadi yang Fransiskan.”, katanya sambil menepuk pundakku. “Kenakanlah kalung Tau ini, sebagai ikon yang mengendalikan seluruh perjalanan hidup dengan segala keinginanmu yang tidak beraturan. Lakukanlah segala sesuatu yang benar dan baik dengan hati yang penuh cinta. Saya yakin dan percaya kau tak akan kembali lagi ke duniamu yang dulu. Untungnya kau belum terlalu jauh terjerumus dalam dunia obat-obat terlarang itu. Tak ada kata terlambat untuk bertobat dan berubah”. “Fery, kau anak yang baik. Jalan hidupmu masih membentang luas ke depan. Apapun pilihan hidupmu kelak lakukan yang terbaik”. “Aku selalu mendoakanmu. Usiaku sudah lanjut dan aku tak bisa mendampingimu terus. Berdoalah bila kau mengalami kesulitan dan pandanglah kalung Tau ini bila hatimu mulai menyesatkan engkau pada hal-hal yang tidak berguna,” pesannya lembut. “Father, terima kasih ya,” kataku sambil mengangguk pelan.

Pagi ini, di dalam kamarku tidak sadar aku meneteskan air mataku mengingat pesan terakhir Father. Father tidak pernah memaksaku tetapi selalu berharap agar aku melakukan yang terbaik setiap harinya. Kulihat mataku di cermin yang memerah karena menangis. Kubasuh lagi mukaku di wastafel yang ada di sudut kamarku. Tiba-tiba kudengar ada yang mengetok halus di pintu kamarku. Tok ...tok..tok..”Siapa?” jawabku pelan sambil melap mukaku. “Selamat pagi Pater Fery, maaf saya ini Frater Edo, hanya mau mengingatkan Pater bahwa Misa perayaan Panca Windu hidup Imamat Pater akan diundur sepuluh menit, karena Mgr. Alex masih dalam perjalanan”. “Oke...terima kasih Frater atas infomasinya, saya akan tunggu di samping sakristi”, jawab Pater Fery tanpa membuka pintu kamarnya. “ Terima kasih Father, untuk semua cintamu yang memekarkan hidup panggilanku,” ucap Pater Fery dengan perasaan bahagia.

SAUDARA KELANA

RELIGIUS DI GELANGGANG POLITIK


Philipina sudah menjadi contoh klasik untuk keterlibatan Gereja dalam arena politik yang berhasil. Presiden Ferdinand Marcos dipaksa turun oleh kekuatan yang disebut “People Power”. Di belakang massa rakyat ada Kardinal Jaime Sin. Dan di barisan paling depan ada biarawati. Mereka berunjuk rasa untuk menggulingkan Marcos dengan menghadapi tank-tank militer yang menghadang mereka. Militer tak berdaya menghadapi barisan perempuan berkerudung yang maju hanya dengan merentang spanduk.
Presiden Gloria Arroyo Macapagal rupanya sekarang juga sedang digoncang. Politisi mau mendorong dia sampai ”lengser”. Tetapi siapa yang bisa mengerahkan massa? Mereka kembali memandang kepada para Uskup dan pasukan religius yang dianggap punya ”power” untuk menggerakkan massa. Ternyata Uskup-Uskup hanya menghimbau pemerintah agar bersih dan adil. Mereka tidak turun ke jalan, juga tidak mengerahkan umatnya untuk itu.
Apakah para pemimpin Gereja itu berpolitik? Memang! Baik Kardinal Sin di zaman Marcos maupun Uskup-Uskup Philipina di zaman Arroyo berpolitik. Dan mereka semua terkena kritik. Kardinal Sin dianggap terlalu jauh masuk gelanggang politik praktis. Sedangkan Uskup-Uskup di zaman Arroyo dikritik sebagai yang berpolitik dari ”menara gading” tanpa ikut merasakan bau keringat masyarakat yang berjuang melawan korupsi. Siapa yang benar?
Politik, kata orang, adalah art, kiat atau lebih tepat seni. Sebagai seni, tentu ada keindahannya; dan sebagai kiat ada ketrampilan dalam mengatur tindakan agar tepat dan bermanfaat. Maka politik adalah seni mendayagunakan komponen-komponen masyarakat, agar mendatangkan manfaat untuk seluruh warga masyarakat. Politik dalam arti itu tentu baik dan indah. Tetapi kalau para politisi justru menyalahgunakan komponen masyarakat hanya untuk mencari kursi dan duit maka politik menjadi buruk dan busuk. Semua warga masyarakat punya hak politik untuk membetulkan arah permainan politik agar tetap terfokus pada kebaikan warga masyarakat seluruhnya. Juga orang-orang Gereja, termasuk para Fransiskan, punya hak untuk itu, lebih-lebih untuk mengarahkan para politisi kepada kepentingan warga masyarakat yang paling tidak berdaya.
Pertanyaannya ialah cara manakah yang boleh dipakai? Menyerukan moral politik? Menggerakkan massa? Menebar spanduk dengan iringan yel-yel tolak itu, turunkan itu? Khusus untuk biarawan-biarawati, pertanyaannya ialah cara mana yang sesuai dengan panggilan hidup mereka?
Cara apa pun yang dipakai, kalau tujuannya untuk menjamin tercapainya kesejahteraan masyarakat kecil, tindakan politik kita pasti baik. Untuk itu, para Fransiskan harus menyerukan moral politik, bahkan boleh turut berjemur diri di Bundaran Hotel Indonesia untuk menentang politisi yang korup.
Tetapi kalau suara politik kaum religius hanya untuk pamer kuasa atau, lebih buruk lagi, merebut kuasa, aksinya tidak lagi mengungkapkan panggilannya. Dan ancaman itu ada, bukan dari polisi atau dari Badan Intelijen Negara (BIN), tetapi dari diri kita sendiri. Mereka yang sekarang tampil sebagai pendekar HAM sedang naik daun. Dengan klaim bahwa suara mereka adalah “voice of the voiceless”, mereka mudah mendapat sponsor untuk menyebarkan suaranya melalui berbagai media sampai ke dunia internasional. Karena itu mereka mempunyai kekuatan, memiliki “power” yang membuat para penguasa takut dan gentar.
Itulah ancaman pertama bagi orang Gereja yang terjun di gelanggang politik. Mereka mendapat “kuasa”. Padahal kuasa dan kekorupan bersahabat akrab. Orang yang punya kuasa gampang melorot menjadi bejat. Ancaman itu menjadi kenyataan kalau kekuasaan didukung popularitas yang mendatangkan arogansi yang membuat telinga orang menjadi tuli sehingga tidak lagi mampu mendengarkan orang lain.
Ancaman kedua ialah perpecahan. Politik gampang menjadi kekuatan yang membawa perpecahan. “Kita” terbagi menjadi “aku” – “kau” dan “kami” – “kita”. Maka mereka yang merasa dipanggil sebagai pembawa damai patut waspada. Sebab menjadi pembawa damai dan sekaligus pembawa perpecahan rasanya sukar dipadukan, walaupun belum tentu jahat.
Ancaman ketiga dan paling serius ialah pendangkalan hidup keagamaan kita. Semarak penampilan agama dalam gelanggang politik bisa membuat agama kelihatan relevan dan bermakna. Tetapi agama bukan hura-hura. Nasihat-nasihat Injil yang mau dijadikan pedoman hidup kaum religius bukanlah nilai-nilai yang bisa meresapi orang melalui unjuk rasa dan unjuk kuasa. Semakin kuat dan kuasa penampilan luar kita, kita cenderung mengukur mutu hidup kita dari “aspek kulitnya dan bukan isinya” dengan akibat hidup kita menjadi dangkal.
Apa yang kita butuhkan untuk tidak jatuh dalam bahaya itu? Keheningan! Kita perlukan keheningan agar kita bisa menemukan tempat berpijak dalam lubuk hati kita sendiri. Dari sanalah memancar mata air keadilan dan damai yang tidak bisa dihasilkan oleh ribut-gaduh dan hura-hura gelanggang politik.

REFLEKSI

Politik dan Kebutuhan
Sdr. Edy Wiyono, OFM

Dalam hidupnya, manusia memiliki kebutuhan-kebutuhan. Kebutuhan-kebutuhan ini ada yang harus dipenuhi dengan segera agar dapat tetap hidup, misalnya kebutuhan makanan. Kebutuhan-kebutuhan akan berkembang sejalan dengan perkembangan hidup manusia itu sendiri. Manusia memiliki kebutuhan-kebutuhan seperti pakaian, rumah, sarana-sarana komunikasi, transportasi, hiburan, dan sarana-sarana lain yang dapat membuat kehidupan manusia dapat dikatakan semakin manusiawi. Terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan manusia yang semakin bertambah itu bagi sebagian orang belum cukup membuat manusia merasa nyaman dan survive. Ada orang yang ingin mendapat prestise dari makanan yang ia makan, pakaian yang ia kenakan, rumah yang ia diami, alat komunikasi yang ia gunakan, pekerjaan, dan hal lainnya. Prestise-prestise yang dirasakan oleh orang dalam hidupnya juga belum dapat membatasi munculnya kebutuhan-kebutuhan baru lagi. Orang masih membutuhkan sesuatu yang dapat membuat hidupnya sungguh nyaman dan sejahtera. Sesuatu itu ialah makna dan nilai. Kebutuhan akan makna dan nilai inilah yang mungkin dapat dikatakan sebagai puncak dari kebutuhan dalam hidup seseorang. Orang akan merasa puas atau bahagia apabila dapat menemukan atau memberikan makna dan nilai dalam hidupnya. Orang yang sudah menemukan makna dan nilai tidak menginginkan hal lain lagi, selain memperdalam dan memperluas makna dan nilai itu dalam hidupnya. Hal ini mengandung arti bahwa orang akan menggunakan apa yang ada dalam dirinya dan sarana-sarana yang ada untuk memperdalam dan memperluas makna serta nilai hidupnya. Makna dan nilai yang demikian berarti menembus realitas dan melampaui egoisme pribadi dan kelompok.
Lalu, apakah ada hubungan antara kebutuhan-kebutuhan dengan perilaku orang dalam hidupnya? Pada dasarnya kebutuhan-kebutuhan itu dapat berdampak positif bagi perilaku orang dalam hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan itu mendorong atau memotivasi orang untuk berbuat sesuatu atau berperilaku tertentu yang terarah pada pemenuhan kebutuhan yang sedang dirasakan. Akibatnya orang akan merasa senang dengan terpenuhi kebutuhannya itu. Bahkan, dapat dikatakan orang merasa puas untuk sesaat. Ya, kepuasan sesaat. Selanjutnya, terpenuhinya satu kebutuhan hidup akan menyusul timbulnya kebutuhan lain yang lebih tinggi tingkatannya. Hal ini tentu baik karena dalam diri orang akan ada pendorong baru dalam perilakunya. Hidup manusia akan menjadi dinamis dengan munculnya pendorong-pendorong perilaku yang baru dan tinggi tingkat atau kualitasnya.
Dalam berpolitik, kebutuhan-kebutuhan hidup yang dihayati dapat menjadi pendorong atau motivator dalam perilaku orang yang berpolitik. Konsekuensinya ialah apabila orang yang berpolitik masih menghayati secara intens kebutuhan-kebutuhan hidup pada level rendah, maka perilaku politiknya juga akan terarah pada tujuan-tujuan yang rendah nilainya. Perilaku politik orang dapat terarah pada kepentingan pelaku politik sebagai pribadi dan kelompoknya yakni menambah income, mencari prestise, menonjolkan peran kelompoknya, memperkuat pengaruhnya terhadap pemerintah dan kurang memperjuangkan harapan sebagian besar warga masyarakat. Sebaliknya, apabila orang yang berperilaku politik menghayati kebutuhan-kebutuhan pada level yang tinggi (kebutuhan akan makna dan nilai), maka perilaku politiknya juga akan terarah pada tujuan-tujuan yang tinggi pula. Tujuan-tujuan politik yang tinggi akan memuat kepentingan seluruh warga masyarakat dan akan mewujudkan pula harapan seluruh warga masyarakat sehingga memberikan kesejahteraan bagi berbagai golongan. Hal serupa kiranya juga dapat terjadi dalam suatu lembaga hidup religius.
Suatu lembaga hidup religius beranggotakan orang-orang yang juga menghidupi aspek manusiawi. Aspek manusiawi ini terkadang kurang terolah karena pikiran dan segenap energi terarah pada tuntutan atau budaya intelektual. Adanya kecenderungan pada budaya intelektual ini mendorong orang untuk memperkaya diri dengan berbagai gagasan dan teori-teori yang selalu berkembang. Hal ini terkadang membuat orang lalai atau tak ada waktu untuk meng-inkorporasi-kan apa yang dipelajarinya itu dalam suatu perilaku nyata sehari-hari. Akibatnya, aspek-aspek manusiawi kurang terolah karena segenap energi diarahkan pada gagasan-gagasan dan teori-teori yang baru. Apabila yang terjadi dalam diri religius demikian dan religius tersebut punya peran dalam mencapai tujuan-tujuan atau menentukan kebijakan dalam lembaganya, maka bukan hal mustahil yang terwujud kebutuhan-kebutuhannya dari aspek manusiawi yang kurang terolah. Akibatnya, apa yang menjadi kebijakan dalam lembaganya dan usaha-usaha perwujudannya menjadi pergunjingan dari banyak anggotanya. Karena itu seorang religius perlu mengolah aspek-aspek manusiawinya sampai pada kualitas yang memungkinkan aspek-aspek spiritualitas lembaga dan kekristenan dapat berkembang secara baik. Berkembangnya aspek-aspek itu dalam diri seorang religius memungkinkannya memiliki kebutuhan akan makna dan nilai yang dalam serta luas. Apabila kebutuhan ini intens dalam diri religius yang ikut menentukan kebijakan-kebijakan dalam lembaga religiusnya, maka kebijakan-kebijakan itu akan menjadi spirit para anggotanya dalam hidup harian. Kebijakan-kebijakan demikian juga akan memberi manfaat dan kesejahteraan bagi banyak anggota dalam lembaga itu dan dirasakan positif oleh orang-orang yang dilayaninya. Dengan demikian kebutuhan akan makna dan nilai yang dalam dan luas sangat dibutuhkan untuk berkecimpung dalam berpolitik agar politik sungguh-sungguh menjadi sarana kesejahteraan bagi kehidupan banyak orang.

FOKUS

MARKETISASI PENDIDIKAN
Sdr. Darmin Mbula, OFM


Dalam era globalisasi ekonomi kapitalis, politik pendidikan cenderung menuju kepada marketisasi (kapitalisme), komodifikasi dan komersialisasi. Arah dan isi pendidikan sekolah dilihat sebagai aset dalam rangka proses perolehan finansial. Dalam konteks politik pendidikan di Indonesia, hal ini terjadi dengan praktek liberalisasi dan privatisasi pendidikan secara sistematis yang dilegalisasikan melalui sejumlah dokumen dan teks-teks kebijakan pendidikan nasional seperti UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional , UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, RUU BHP dan Kepres No. 77/2007 tentang Komoditas yang tertutup dan terbuka. Dampaknya adalah pendidikan semakin mahal dan nyaris tak terjangkau oleh masyarakat miskin.
Demokrasi yang sehat dan kuat pada tingkat nasional membutuhkan warga masyarakat yang kuat di tingkat lokal. Pendidikan semestinya menjadi jembatan bagi proses demokratisasi bagi bangsa dan negara di dunia. Oleh karena itu, pemerataan pendidikan harus diupayakan secara serius dan sistematis.
Pertanyaannya adalah apakah politik pendidikan neoliberal yang melegitimasikan liberalisasi pendidikan dapat membentuk warga negara yang demokratis dan menjamin kesejahteraan umum serta perdamaian dunia? Ketika sekolah berubah menjadi pasar (kapitalisme global), apa peran strategis kita sebagai fransiskan dan fransiskanes yang menyelenggarakan sekolah-sekolah dengan ribuan subyek didik di seluruh persada Nusantara?

Politik Pendidikan Neoliberal: Marketisasi Pendidikan
Politik pendidikan neoliberal lahir dari globalisasi ekonomi kapitalis. Globalisasi ekonomi adalah proses di mana barang-barang, jasa, investasi, tenaga kerja dan informasi mengalir secara bebas lintas batas-batas nasional dengan tujuan utama untuk mengakumulasi modal secara maksimal. Kapitalisme global meliputi komodifikasi semua jenis usaha manusia untuk menghasilkan nilai dan profit yang surplus. Korporasi transnasional merupakan lingkaran utama di mana nilai surplus diakumulasi sebagai keuntungan yang besar. Hal itu terjadi melalui mekanisme pasar bebas (marketisasi).
Alan Wolfe mengamati bahwa ada mekanisme pasar dalam pendidikan di sekolah. Para siswa merasa diri sebagai pembeli dan para guru di sekolah merasa diri sebagai penjual komoditas. Implikasi marketisasi untuk masa depan pendidikan ialah bahwa jasa pendidikan dijadikan sebagai komoditas yang bisa diperjual-belikan demi keuntungan yang sebesarnya-besarnya bagi pemilik modal. Helen Raduntz mengungkapannya bahwa marketisasi pendidikan dalam ekonomi kapitalis tidak berkaitan dengan kualitas pendidikan atau dengan kepeduliaan sosial, etis dan keadilan, tetapi berkaitan dengan mencari keuntungan yang sebesar-besarnya (M W Apple ed., Globalizing Education, Poicies, Pedagogies, & Politics, 2007).
Dalam proses marketisasi, pendidik dimarginalisasi dalam kemurahan hati para pelatih (trainers) dan manager bisnis. Pembelajaran di ruang kelas telah menjadi otomatis melalui penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. Pengetahuan pendidik (guru dan dosen) dikomodifikasi dan dipaketkan untuk online learning. Kursus-kursus kemanusiaan yang nilai pasarnya rendah disingkirkan sebagai model instrumental. Bagi Noble, kecenderungan-kecenderungan itu menandakan model pendidikan yang sungguh-sungguh kapitalis. Akibatnya, terjadi injeksi kompetisi dalam lembaga-lembaga pendidikan, suatu ketidakadilan dalam perlengkapan pendidikan dan suatu kencenderungan meningkatnya spesialisasi yang sempit. Apa yang ditinggalkan adalah sebuah ”tubuh”yang dipotong-potong, tidak lagi dalam suatu posisi melahirkan banyak gagasan kritis dan kreatif, tetapi melahirkan tenaga kerja yang terampil yang dibutuhkan kaum kapitalis (Noble D., Digital Diploma Mills: The Automation of Higher Education, 2002). Universitas sebagai rumah penuh kuasa untuk melahirkan gagasan merupakan target utama untuk investasi, industri-industri yang berbasis pengetahuan seperti telekomunikasi, komputer, elektronik dan bioteknologi. Karena invetasi ini besar keuntungannya, maka gagasan dan pikiran mereka dilindungi dengan undang-undang copyright dan hak paten,
Pendidikan tidak terlibat secara langsung dalam produksi dan komoditas untuk akumulasi modal tetapi pendidikan terlibat secara tidak langsung sebagai produsen pengetahuan dan tenaga terampil, oleh karena itu pendidikan dapat diklasifikasikan sebagai bagian dari infrastruktur yang mendukung secara langsung penumpukan modal. Pada titik ini, marketisasi pendidikan memasuki arena politik untuk menyingkapkan ”agitasi” demokratis demi kualitas dan keadilan. Munculnya ketidakadilan yang baru dalam dunia pendidikan sebagai hasil marketisasi membuktikan bahwa ketidakadilan bukan hanya konstruksi teoritis atau sesuatu yang secara subyektif dialami oleh individu, tetapi ketidakadilan mempunyai basis obyektif dalam relasi struktural dari model produksi kapitalis.

Kebangkitan Education-state
Pendidikan neoliberal yang melahirkan marketisasi pendidikan sama sekali tidak mampu membentuk sebuah tatanan dunia baru, sebuah masyarakat yang demokratis yang menjamin kesejahteraan umum dan perdamaian dunia serta keutuhan alam ciptaan. Oleh karena itu, paradigma baru dalam bidang politik pendidikan sangat dibutuhkan, yaitu sebuah konsep education-state untuk mendidik warganya dan peserta didik guna memliliki kemampuan-kemampuan demokratik.
Education-state berkeyakinan bahwa pendidikan adalah hak dasar manusia sebagai manusia. Karena itu pendidikan harus diselenggarakan dengan menjunjung tinggi hak asasi, demokrasi, keadilan dan tidak diskriminasi di tengah kemajemukan bangsa. Model penyelenggaraan pendidikan semacam itu dapat berfungsi untuk mempertahankan demokrasi dan menjamin kesejahteraan umum. Mark Olssen dan John Cood mengingatkan kita bahwa pendidikan merupakan sebuah kekuatan utama untuk merekonstruksi warga negara yang demokratis ( Mark Olsssen dkk, Education Policy: Globalization, Citizenship & Democracy, 2004). Karena itu politik dilihat dari perspektif pendidikan adalah pendidikan untuk demokrasi (education for democracy) dan demokrasi dalam pendidikan (democracy in education). Keunggulan dan pemerataan pendidikan harus diupayakan secara serius dan sistematis sehngga kesenjangan dalam dunia pendidikan bisa diminimalkan dan pendidikan bisa menjadi jembatan bagi proses demokratisasi bangsa.
Held dan McGrew’s menyatakan bahwa pendidikan harus bertujuan mewujudkan demokrasi sosial kosmopolitan global. Dan kita melihat kebangkitan education state sebagai dasar untuk munculnya tatanan dunia baru yang penuh demokratis, adil dan menjunjung tinggi hak asasi serta menghargai nilai-nilai kemajemukan. Dalam konteks globalisasi, kita perlu membiasakan anak-anak memahami eksistensi bangsa dalam kaitan dengan eksistensi bangsa lain dan segala persoalan dunia
Pendidikan demokrasi tidak hanya peduli dengan belajar tentang demokrasi tetapi juga dengan keterlibatan dalam berdemokrasi. Pendidikan demokrasi tidak hanya melalui kurikulum tetapi juga melalui ekstrakurikuler dengan fokus pada pembelajaran langsung dan tidak langsung melalui partisipasi dalam lembaga sekolah, forum komunitas sekolah, dan forum antar sekolah demi relasi pendidikan yang lebih luas. Pendidikan untuk demokrasi yang sungguh-sungguh efektif akan melibatkan transformasi budaya sekolah. Sebagaimana dikatakan oleh Beane dan M. Apple bahwa peningkatan partisipasi pada akar rumput dan sekolah dapat memberdayakan individu dan kelompok yang sampai sekarang dibisu-diamkan secara luas dan menciptakan cara-cara baru dalam hubungan antara dunia real dan masalah-masalah sosial dengan sekolah sehingga sekolah secara integral dihubungkan dengan pengalaman-pengalaman masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Dewasa ini, kita membutuhkan bukan sekedar konsep negara kesejahteraan (the welfare state), tetapi negara harus menjadi suatu negara pendidikan (education state) yang mendidik warganya demi tercapainya kesejahteraan masyarakat (the welfare community). Penulis meyakini bahwa hanya dalam negara pendidikanlah, politik pendidikan menghasilkan kebijakan-kebijakan pendidikan nasional yang menjamin pendidikan demokratis dan demokrasi dalam pendidikan demi terwujudnya keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.

Pendidikan di sekolah-sekolah Fransiskan
Pendidikan di sekolah-sekolah Fransiskan tersebar di seluruh wilayah Nusantara. Peserta didik adalah anak-anak yang unik dan berasal dari berbagai suku, tradisi dan keluarga yang berbeda-beda. Pendidikan di sekolah-sekolah Fransiskan tidak hanya tempat dan ruang kelas untuk mentransfer ilmu pengetahuan dan keterampilan, tetapi merupakan pusat pembudayaan dan peradaban manusia yang disinari Kabar Baik (Injil) dengan semangat St. Fransiskus dari Assisi yang sungguh peduli terhadap lingkungan hidup, persaudaraan dan perdamaian, serta solidaritas dengan kaum marginal. Oleh karena itu pendidikan di sekolah-sekolah Fransiskan-Fransiskanes tidak untuk mencari keuntungan finansial yang sebesar-besarnya, apalagi untuk menumpuk modal besar, tetapi merupakan panggilan hidup dan jiwa untuk memenuhi bumi dengan injil, untuk membebaskan orang –orang yang tertindas, miskin dan bodoh.
Agar pendidikan di sekolah Fransiskan-Fransiskanes sungguh-sungguh menjadi sebuah panggilan hidup dan jiwa untuk mencerdaskan dan membebaskan serta menyejahterahkan anak-anak bangsa, maka kita perlu melakukan hal-hal yang strategis sebagai berikut:
Pertama, pendidikan di sekolah-sekolah Fransiskan-Fransiskanes harus benar-benar menjadi gerakan untuk membela dan memihak anak-anak yang miskin dan ’bodoh’. Visi dan misi pendidikan di sekolah-sekolah kita adalah pemihakan terhadap rakyat kecil dan tertindas untuk menciptakan suatu sistem sosial baru yang lebih adil dan demokratis. Sebuah pendidikan yang sungguh-sungguh diperuntukkan guna menyadarkan dan mengentaskan masyarakat miskin dari jeratan struktural yang hegemonik dan pembodohan menuju pada proses pencapaian pembebasan kemanusian. Pendidikan yang memerdekakan dan mampu memberikan pencerahan bagi semua manusia. Oleh karena itu sekolah-sekolah yang kita layani terbuka lebar-lebar bagi mereka yang termarginalisasi. Sekolah –sekolah kita perlu meningkatkan solidaritas dan kerjasama antar yayasan dan teraket kita.
Kedua, pendidikan adalah proses bertumbuh bersama dalam nilai dan rahmat ( value and grace) Pendidikan menumbuh-kembangkan peserta didik untuk menjadi pribadi bagi yang lain. Pendidikan di sekolah-sekolah kita harus memekarkan potensi peserta didik bukan untuk bersaing tetapi untuk bekerjasama, untuk bertanggungjawab dan peka terhadap sesama dan lingkungan hidup di sekitar mereka. Tugas pendidikan Fransiskan adalah humanisasi kehidupan. Pendidikan sebenarnya adalah sebuah proses bertumbuh bersama dengan dan ke arah makna yang tidak lain dari pada bertumbuh dalam nilai dan rahmat.
Ketiga, pendidikan di sekolah-sekolah kita berbasis holistik dan berorientasi pada kepedulian terhadap lingkungan hidup di sekitar kita. Keberhasilan pendidikan saat ini hanya didasarkan pada besarnya jumlah lulusan yang terserap di lapangan industri. Pendidikan dipakai sebagai instrumen untuk melahirkan kuli-kuli bagi sektor industri, bukan sebagai proses pencerdasan, pendewasaan masyarakat. Reduksionisme pendidikan sebagai lembaga kursus keterampilan itu bertolak dari pandangan bahwa pendidikan merupakan instrumen bagi penyiapan tenaga kerja industri atau untuk ekonomi global, sehingga ukuran keberhasilan pendidikan terletak pada terserap pada ekonomi global. Bahaya dari pandangan ini adalah mengasingkan peserta didik dari lingkungan alam sekitar, lingkungan sosial maupun lingkungan budayanya. Sekolah-sekolah yang dilayani Fransiskan janganlah terjebak pada reduksionisme ini, tetapi mengembangkan pendidikan yang holistik. Pendidikan lebih sebagai proses untuk tumbuhnya budi pekerti, pikiran, dan perkembangan jiwa serta karakter anak itu sendiri.
Keempat, pendidikan di sekolah-sekolah Fransiskan –Fransiskanes harus membuat peserta didik untuk sadar diri sebagai warga bumi. Pendidikan di sekolah-sekolah kita harus menuntun ke antropo-etika (etika manusia), mampu membentuk suara hati peserta didik yaitu suara hati antropologis; suara hati ekologis; suara hati warga bumi dan suara hati spiritual akan kondisi manusiawi. Pendidikan kita juga hendaknya mencakup perkembangan terpadu antara otonomi individu, partisipasi kelompok dan kesadaran sebagai bagian umat manusia. Oleh karena itu pendidikan perlu menyadarkan peserta didik akan keberdaan kita sebagai warga bumi untuk berdamai dan bersahabat dengan bumi.
Kelima, Pendidik (guru) di sekolah-sekolah Fransiskan-Fransiskanes bukan hanya tugas profesi tetapi sungguh-sungguh sebagai panggilan jiwa. Iming-iming komisi dari pelbagai industri telah menjadikan profesi guru dilihat sebagai broker dari industri pariwisata, industri penerbitan, industri tekstil, industri sepatu dan lain sebagainya. Posisi ekonomi guru tidak pernah kaya dengan bertindak sebagian broker industri, tetapi peran broker-nya membuat pendidikan menjadi rusak dan profesi guru menjadi rendah, terpuruk. Peran guru sebagai broker juga telah mereduksi fungsinya sebagai pendidik yang seharusnya mencerdaskan, membuat kritis dan mendewasakan murid. Oleh karena itu pendidik di sekolah-sekolah Fransiskan-Fransiskanes bukanlah broker-broker, tetapi guru sebagai panggilan hidup dan jiwa untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Monday, March 16, 2009

Pahit Kisah Kehidupan


Beberapa anak gelandangan memapah seorang temannya yang luka parah disenggol mobil ke suatu rumah sakit yang terdekat. Di pintu gerbang rumah sakit mereka sudah dicegat satpam. Mungkin karena belas kasihan kepada korban, akhirnya mereka dibiarkan masuk menuju loket infromasi. Di loket infromasi mereka ditanya: perlu apa, kalau mau masuk rumah sakit nantinya siapa yang akan membayar, berapa uang muka yang sudah disiapkan, dsb. Anak-anak gelandandangan itu tentu saja bingung untuk menjawabnya. Lalu mereka disuruh menunggu, persoalan bisa diterima atau tidak, akan diperoleh kepastian dari pimpinan entah siapa pimpinan itu.

Sementara anak-anak gelandangan itu menunggu, tiba-tiba terdengar raung mobil ambulans memasuki halaman rumah sakit, disusul mobil-mobil mewah lainnya. Rupanya ada pasien penting dan kaya dibawa ke rumah sakit itu. Langsung ke gawat darurat. Tidak lama kemudian belasana perawat dan beberapa dokter sibuk hilir mudik melayani pasien VIP itu. Anak-anak gelandangan terkesima melihat pemandangan itu. Selanjutnya mereka hanya bisa menunggu, menunggu dan menunggu. Ketika akhirnya seorang dari mereka memberanikan diri bertanya kembali ke loket informasi. Mereka mendapat nasihat untuk mencari rumah sakit pemerintah. Itulah jawabannya sesudah beberapa jam menunggu.

Anak-anak gelandangan itu meninggalkan rumah sakit sambil memapah kawannya yang semakin melemah. Mereka sudah memiliki firasat temannya tidak akan lama lagi bertahan. Beberapa dari mereka menghapus arimatanya yang mengalir deras dengan ujung bajunya.

Wednesday, January 14, 2009

NOTULEN RAPAT AKHIR TAHUN REDAKSI MAJALAH PERANTAU

Hari / tanggal : Senin, 8 Desember 2008
Pemimpin rapat : Sdr. Iron Rupa, OFM
Peserta : Sdr. Peter Aman, OFM ; Sdr. Eddy Kristiyanto, OFM ; Sdr. Yufen, OFM ; Sdr. Duma, OFM dan Sdr. Mauritz, OFM
Beberapa hal yang dibicarakan dan diputuskan:
1. Evaluasi 2008:
a. Kelemahan di banyak sisi (Proses pencetakan majalah: mulai dari wartawan dan redaksi:; penjaga rubrik, editor bahasa lalu redaktur pelaksana, design grafis, masukan dan koreksi lagi, yang terakhir: pimpinan redaksi)
b. Sarana dan prasarana kurang (komputer), printer untuk contoh cetakan dan koreksi dan kamera untuk foto tidak ada
c. Soal kantor (tempat kerja), komputer di kantor sulit digunakan karena Sdr. Kees tidak mengizinkan dengan sukarela.
d. Lima point evaluasi:
i. SDM : ada orang dengan macam-macam tugas; perlu diatur lebih baik.
ii. Keuangan
iii. Manajemen
iv. Visi
v. Sarana : komputer
e. Timnya diperkuat dan keterlibatan frater di PERANTAU perlu diakui sebagai sebuah ekstra- kurikuler (usul ke sekdikdi)
f. Ada sambutan baik dari segi penampilan dan isi dari para pembaca mengenai format dan isi PERANTAU yang baru

2. Edisi Akhir Tahun 2008.
a. Cetak edisi September – Desember 2008.
b. Berita-berita diganti dengan: 1. Berita tentang rapat perdana di Medan (Iron) ; 2. Berita pengukuhan Sdr. Eddy Kristiyanto, OFM sebagai seorang profesor.
c. Edisi akhir ini disepakati sebagai edisi yang sederhana: kertas koran, hanya cover depan yg berwarna, agar lebih murah dan tidak mahal.
d. Pinjam dana dari JPIC.
3. Hasil rapat di Nagahuta berkaitan dengan PERANTAU :
i. Statuta PTF dibacakan bersama.
ii. Sharing kondisi nyata SEKAFI
iii. Disepakati dalam rapat :
1. Kerja sama di bidang spiritualitas perlu diperkokoh
2. Perlu adanya royalti untuk penulis buku dan manajemen.
3. Mekanisme kerja, dana, sarana dan pra sarana.
4. Profil kongregasi : buat buku dalam rangka 800 tahun.
5. Mengusulkan agar Sdr. Eddy bicara tentang kerja sama antar fransiskan (Sekafi) dalam pertemuan di Lota (April 2009) secara khusus berkaitan dengan SEKAFI dan Majalah PERANTAU.
iv. PERANTAU 2009 : terbit empat kali dengan bobot utama: Fransiskanisme.
1. Mengubah isi : dinamika diganti dengan ‘kronik’; seni sastra tidak perlu lagi, dimasukkan menjadi suplemen yg bisa terbit sekali setahun.
2. Membahas tulisan-tulisan Fransiskus:
3. Tajuk, Fokus, saudara kelana, resensi, kronik (bisa berupa foto), tulisan Fransiskus.
4. Tulisan St. Fransiskus; hagiograf (Celano, Bonaventura, kronik-kronik), dllsb.
v. Tema-tema 2009:

TEMA UTAMA : Rahmat Asal-Usul Kita
1. Januari – Maret : mendengar supaya berubah
a. Spiritualitas : Salib San Damiano (resensi Buku Salib San Damiano)
b. Fokus :
i. Utama (membahas tema: Toni OFM Cap.)
ii. Hendrik Seta
iii. Mike Peruche
c. Saudara Kelana : Mgr. Leo OFM
d. Resensi Buku San Damiano : Yuven
e. Kronik : Redaktur Pelaksana (minta bulletin-buletin dari masing-masing Tarekat)
f. Tulisan Fransiskus: Kons Bahang OFM (Sacrum Commercium)
2. April – Juni : Berani menghayati Injil – 1Cel 22.
a. Spiritualitas : Inilah yang kucari
b. Fokus
i. Peter C. Aman (Berani Menghayati Injil)
ii. Christine Murni FMM
iii. Zita SFS
c. Saudara Kelana (Mgr. Leo OFM)
d. Resensi Buku : Krisna Mencari Raga (Anton Duma OFM)
e. Kronik
f. Tulisan St. Fransiskus : Kons Bahang OFM
3. Juli – September : Mengembalikan segalanya kepada Tuhan
a. Spiritualitas : Wasiat St. Fransiskus
b. Fokus :
i. Hendrika FSGM (Mengembalikan segalanya kepada Tuhan)
ii. Surya Pranata, OFM
iii. Titus OFM Conv
c. Sdr. Kelana
d. Resensi : Anggaran Dasar OFS (Erens Gesu OFM)
e. Kronik
f. Tulisan Fransiskus : Kons Bahang OFM
4. Oktober – Desember : Menatap Masa Depan
a. Spiritualitas : Wasiat St. Clara
b. Fokus :
i. Margaretha OSC / Bernad OSC
ii. Tanto OFM
iii. OSC Cap (Sikeben)
c. Sdr. Kelana
d. Resensi : Eddy Kristiyanto OFM
e. Kronik
f. Tulisan Fransiskus : Kons Bahang OFM

Thursday, January 1, 2009

Tajuk

Ekonomi Berkeadilan


Dari arti katanya
, ekonomi mestinya bertaut rapat dengan keadilan. Ekonomi menyangkut penataan, pengaturan atau pemberesan urusan ‘rumah tangga’ (oikos : rumah tangga, nomos: aturan). Penataan atau pengaturan itu dimaksudkan agar semua warga ‘rumah tangga’ mendapatkan apa yang seharusnya dia dapatkan agar dia hidup wajar dan baik sebagai manusia, makhluk individu, makhluk sosial, makhluk ekonomi, makhluk religius dan makhluk ekologis.

Namun, ketika kita berhadapan dengan realitas hidup, ekonomi ternyata menjadi kekuatan yang liar, tak terkendalikan, bergerak dengan tatanannya sendiri, berkiprah dengan hukumnya sendiri, lepas dari pertautannya dengan kebaikan dan kesejahteraan hidup manusia. Ekonomi keluar dari rel tujuan adanya yakni kesejahteraan dan kebaikan hidup bersama manusia atau kesejahteraan bersama. Ekonomi telah keluar dari ‘fitrahnya’, yakni urusan rumah tangga, dan masuk ke dalam arena ‘hukum rimba’, sehingga hanya yang kuat dapat bertahan hidup dan bahkan hidup berkelimpahan, sedangkan yang lemah terpental ke luar arena hidup layak, lantas terhempas dalam kubangan kemiskinan yang nyaris ‘abadi’.

Itulah fakta yang tak dapat kita pungkiri dalam arena pasar bebas atau ekonomi yang berintikan roh kapitalis pada masa kini. Dampak nyata dari tingkah ekonomi pasar bebas atau neoliberalisme ini adalah pertarungan di arena pasar yang menghampar ke seluruh jagat. Dunia kita menjadi arena pertarungan, dengan ‘norma’ pertarungan yang amat primordial-natural, yakni yang kuat menang serta hidup, yang kalah terhempas dan mati.

Jumlah angkah orang-orang miskin, yang kalah dalam pertarungan, terus menanjak naik. Ironisnya bersamaan dengan itu kita menyaksikan kemajuan iptek yang mempermudah dan menjamin efisiensi pencapaian tingkat produksi, terutama pemanfaatan sumber-sumber alam berkelimpahan untuk kemajuan hidup manusia. Tetapi mengapa ada kemiskinan massif di satu pihak dan akumulasi kekayaan di lain pihak? Soalnya, bukan bahwa alam tidak memberi jaminan hidup berkecukupan, tetapi apa yang diberikan alam tidak pernah mencukupi bagi sejumlah orang tamak. Kebenaran pernyataan Gandhi ini dengan mudah kita temukan buktinya. Hanya ada sedikit orang kaya raya di bumi ini dan selebihnya massa rakyat miskin yang tak terhitung jumlahnya, atau jumlahnya selalu dimanipulasi.

Ketika PERANTAU kali ini menyoroti lagi keadilan ekonomi, maka terasa baik menyimak sejumlah pokok yang harus diperhatikan sebagai fondasi bagi keadilan ekonomi. Pokok-pokok tersebut digali dari rancangan dan kehendak keadilan Allah sebagaimana tertuang dalam Kitab Suci.

Pertama, keadilan berarti memperlakukan sesama secara benar menurut norma-norma manusiawi yang membantu setiap orang berkembang sebagai pribadi. Kedua, keadilan Ilahi dalam konteks ekonomi, mencakup pengutamaan kepentingan dari mereka yang paling membutuhkan; Ketiga, keadilan ekonomi tidak semata-mata menyangkut alokasi sumber-sumber material, tetapi kualitas relasi antar manusia; Keempat, keadilan dalam alokasi sumber-sumber material harus didasarkan pada hak setiap orang untuk menikmati rahmat dan berkat Allah melalui materi yang diciptakan-Nya.

Karena itu keadilan dalam bidang ekonomi bukan pertama-tama menyakut hukum, politik dan kebijakan ekonomi tetapi menyangkut kualitas moral dalam kehidupan manusia sebagai makhluk pribadi, sosial, ekonomi, religious dan ekologis. Tanpa ada kualitas moral dalam hidup manusia, maka mimpi keadilan ekonomi tak kunjung menjadi kenyataan.

Saturday, December 6, 2008

Spiritualitas

Religius Fransiskan Dalam Gelanggang Pertaruhan Uang
(Jimmy Hendrik Rance Tnomat, OFM)
Masih segar dalam pita ingatan saya ketika Magister novis (sekitar enam tahun lalu) mengatakan kepada kami bahwa “bila ketiga nasehat Injil (kemiskinan, kemurnian, dan ketaatan) tidak diinkorporasikan dalam diri orang sehingga menjadi bagian yang integral dalam hidupnya, maka bisa dipastikan bahwa orang yang bersangkutan akan membiarkan hidupnya mengalir begitu saja....” Beliau mengatakan hal ini ketika ia menjelaskan mengenai makna penghayatan ketiga nasehat Injil bagi para religius. “.....bahkan dalam karya pun orang tersebut akan lebih memilih tempat basah, dan kerapkali buat pusing pimpinan” lanjutnya.
Salah satu penggalan yang menarik buat saya dari ungkapan di atas adalah tempat basah. Waktu itu, yang kecantol dalam benak dan pikiran saya soal sebutan tempat basah adalah lahan atau tanah yang cukup subur. Maklum, saya berasal dari keluarga petani yang sehari-hari mengakrabi (saudari) tanah ini, sehingga ketika mendengar sebutan itu saya langsung berasosiasi mengenai tanah yang subur. Ternyata dalam perjalanan waktu saya baru menyadari bahwa sebutan itu punya konotasinya. Sebutan itu, sekurang-kurangnya di kalangan kaum berjubah, dikonotasikan dengan suatu tempat karya yang mendatangkan banyak kemudahan, kemapanan, kenyamanan, fasilitas, dan termasuk di dalamnya soal uang. Artinya, tempat basah yang dimaksud itu tidak lain adalah tempat karya di mana segala kebutuhan -bagi kaum berjubah- terpenuhi. Apalagi di zaman (globalisasi) ini, salah satu tolok-ukur dari segala hal yang membawa kemudahan (memenuhi kebutuhan) itu adalah uang.

Zaman di mana Uang Menjadi Sang Maharaja Baru
Sampai pada pemahaman di atas, saya coba berenung lebih jauh soal situasi kapitalisme ekonomi global yang tengah ‘menebar pesonanya’ saat ini. Tentu hal ini tak bisa kita pisahkan dari apa yang disebut sebagai globalisasi. Berbicara soal globalisasi, ada paradoks yang kita jumpai. Di satu pihak, globalisasi memberi andil dalam proses perkembangan kehidupan manusia. Dengan adanya proses globalisasi banyak hal yang bisa kita lakukan dan peroleh dengan cara yang sangat mudah. Misalnya soal informasi, pengetaahuan, dan teknologi. Di lain pihak, revolusi informatika, pengtahuan, dan teknologi, yang ditampakkan oleh era globalisasi ini, telah melahirkan ketergantungan sendiri dalam diri manusia. Kemuajuan teknologi di bidang informasi membuat orang betah berlama-lama di depan TV untuk nonton sinetron kesayangannya, atau berlama-lama di depan internet. Hal ini menggantikan kebiasaan ngerumpi yang sebenarnya lebih mendekatkan ikatan emosional antar individu. Saya sendiri melihat bahwa ruang hubungan sosial antar manusia akhirnya bersifat impersonal. Tak berlebihan kalau saya mengatakan di sini bahwa globalisasi ternyata membawa ekses-ekses negatif yang menghancurkan kehidupan dan mengancam integritas dunia (manusia). Selain kemajuan dalam bidang yang saya sebutkan tadi, globalisasi juga mendapat formatnya yang paling jelas dalam kapitalisme ekonomi. Kapitalisme ekonomi global yang kemudian mendapat mantel barunya dalam neo-liberalisme telah mengubah dunia menjadi sebuah arena pertaruhan uang. Ia telah merekonstruksi dunia ini menjadi dunia yang dipenuhi tangisan kematian. Tidak ada lagi kehidupan, yang ada hanya uang dan uang.
Jim Hoagland mengatakan bahwa “Ciri yang menentukan dari era politik post-modern sekarang ini ialah dominasi uang yang mutlak sebagai prinsip yang mengatur hubungan manusia dan hubungan internasional. Waktu yang masih ada tampaknya tidak lebih dari beberapa hari saja” (David C. Korten, The Post-Corporate World (edisi terj.) Obor: Jakarta, 2002). Pernyataan Jim ini memang secara tepat merepresentasikan situasi dunia kita saat ini. Ciri yang paling nampak dalam dunia saat ini adalah dominasi uang atas kehidupan manusia. Segala sesuatu bahkan manusia sendiri yang menciptakan nilai tukar uang dinilai dengan seberapa besar nilai tukarnya terhadap uang. Uang menjadi sang maharaja baru yang menguasai segala sumber kehidupan.

Uang Bukan Tujuan Hidup
Bicara soal uang tidak gampang. Sensitif! Pengelolaannya tidak gampang. Untuk itu, kalau saya tidak keliru, perlu orang yang secara khusus belajar tentang pengelolaan atau management keuangan, dlsb. Di setiap tarekat, ada orang yang secara khusus menggeluti hal ini. Pengelolaan keuangan ini, hemat saya, penting tetapi bukan tujuan hidup. Kita lihat misalnya dalam tulisan-tulisan Paulus yang memberi perhatian pada kolekte untuk Yerusalem (lih., Gal 2:10; 1 Kor 16:1-4; 2 Kor 8-0; Rm 15:25-32; juga Kis 24:17). Tulisan-tulisan Paulus ini memperlihatkan bahwa pengelolaan uang mendapat perhatian serius. Memang, saya sendiri sadari bahwa maksud tulisan-tulisan itu selalu dalam konteks yang lebih luas. Dalam 2 Kor 8:4 dan 9:13 Paulus menyebut kolekte itu koinonia artinya persekutuan (bdk, Rm 15:27). Juga, di sini kelihatan bahwa pengelolaan uang penting, tetapi bukan tujuan hidup.
Di samping itu, tak bisa kita elakkan bahwa uang itu sangat berguna. Kata Pengkhotbah: “untuk tertawa orang menghidangkan makanan, anggur meriangkan hidup, dan uang memungkinkan semuanya itu” (10:19). Ini berarti bahwa uang adalah sarana yang berfaedah. Tetapi, hemat saya, kalau uang menjadi tujuan maka segala-galanya akan kacau-balau. Sebab “siapa mencintai uang tidak akan puas, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya” (Pkh 5:9). 1 Timotius malah berani berkata bahwa “akar segala kejahatan ialah cinta uang” (1 Tim 6:10). Sebab “tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Mat 6:24). Mungkin saja karena keserakahan, uang yang sebenarnya menjadi sarana dibuat menjadi tujuan.

Religius Dalam Gelanggang Pertaruhan Uang
Dunia berubah dan membawa manusia pada sebuah gelanggang pertaruhan uang. Siapa yang tidak bertahan atau tidak kuat, bisa dipastikan bahwa ia akan tergelincir keluar dari gelanggang ini. Akibatnya, segala hal dapat dihalalkan atau direlatifkan agar orang bisa tetap eksis dalam gelanggang ini. Yang kuat kian kuat, sementara yang lemah makin terperosok dalam ketidak-berdayaannya. Ketimpangan terjadi di sana-sini. Keadilan pun makin disangsikan terjadi dalam gelanggang ini.
Nuraniku bertanya apakah kaum religius, secara khusus kita yang mengaku diri pengikut setia Il Poverello, mesti ikut dalam pertaruhan itu? Kalau toh ikut sebagai salah satu peserta, strategi apa yang menjadi perisai kita? Apakah strateginya itu adalah mencari tempat basah? Kalau demikian, bagaimana dengan tempat kering? Apakah kita masih ‘berbangga’ sebagai ksatria Kristus, bentara raja agung, yang ‘berbendera’ spirit hidup St. Fransiskus Assisi dan ‘bertamengkan’ option for the poor bila orientasi hidup kita adalah mencari keamanan, kenyamanan, kemapanan, keuntungan sebesar-besarnya, dlsb dalam gelanggang ini?Pikiran liar yang juga mengusikku adalah di mana letak keadilan, solidaritas, dlsb? Apakah selama ini kita sudah adil, misalnya terhadap mereka (karyawan/ti, guru, dll) yang selama ini dengan setia bersama kita membangun dan mengembangkan karya (misalnya sekolah, rumah sakit, panti, dll) kita? Apakah kita sudah memberi kepada mereka apa yang menjadi hak mereka? Atau kita sebaliknya bertindak seperti pemilik kebun anggur (bdk Mat 20:15) yang dengan bebasnya menggunakan hak miliknya menurut kehendaknya sendiri?

Saudara Kelana

Apa Yang Perlu?
Pernah semboyan “Indonesianisasi” laku keras di masyarakat kita. Ada rasa bangga dalam suara orang yang mengucapkannya. Mungkin karena nuansa yang terkandung dalam semboyan itu ialah Indonesia menjadi pusat dan patokan untuk semua yang datang dari luar. Apapun yang berasal dari negeri lain, kalau mau diterima dalam lingkup yang disebut Indonesia, harus bisa disesuaikan dengan kepribadian bangsa kita. Penulisan sejarah pun harus Indonesiasentris, ditulis dan dibaca menurut perspektif dan kepentingan bangsa. Lain halnya dengan sekarang. Orang lebih gencar dan bangga bicara tentang “globalisasi”. Batas-batas negara menjadi kabur dan masyarakat dunia menjadi bagaikan satu kampung sejagad, “global village”. Mana yang menjadi pusat dan patokan? Bukan lagi satu negara atau bangsa seperti Indonesia tetapi sesuatu yang lain, satu kekuatan yang sulit diidentifikasi, tangan yang tidak terlihat. Di bidang ekonomi, globalisasi berarti “pasar bebas”. Satu negara menjual dagangannya ke negara lain dengan harga yang ditentukan oleh pasar itu sendiri. Dalam suasana pasar bebas itu yang menjadi pusat yang menentukan pastilah negara yang adikuasa dan perusahaan multinasional yang lincah berdagang.
Globalisasi dan pasar bebas membawa dampak dalam ukuran keperluan kita. Ada banyak hal yang sebelumnya tidak masuk dalam daftar kebutuhan kita, kini mungkin kita anggap amat perlu hanya karena paksaan yang halus tetapi amat kuat dari tangan yang tidak terlihat itu.Telepon, misalnya.Ketika hanya ada telepon kabel, alat ini sudah amat otoriter. Kalau dia berdering, orang pasti bergegas angkat gagang telepon, biarpun harus meninggalkan piring nasinya diserbu lalat. Apalagi sekarang dengan telepon selular. HP menjadi tiran yang mahakuasa.Dia ditaruh di saku, ditempelkan di pinggang atau dikalungkan di leher agar jangan sampai dia memanggil dan tidak disahuti. Awak kabin pesawat udara berulang mohon agar HP dinonaktifkan. Alasannya amat serius: mengganggu komunikasi pilot dengan risiko bencana mati untuk kita semua. Meskipun begitu tetap ada yang tidak peduli. Kuasa si tiran itu memang luar biasa kuatnya. Dalam gereja pun, di tengah perayaan liturgi, tidak jarang si tiran itu memberi perintah, dan dituruti. Ternyata dia lebih berkuasa daripada Tuhan, karena sudah masuk dalam daftar barang yang mutlak perlu untuk manusia yang mengglobal itu. Selera makan kita pun turut terkena. Ayam goreng Sri Ningsih tidak lagi mencukupi. Kita juga merasa perlu ke Kentucky Fried Chicken. Bukan karena lebih enak dan lebih bergizi, tetapi lebih bergengsi. Dan banyak hal lain kita rasa perlu hanya karena mau gengsi itu.Kemiskinan di kampung-kampung bertambah.Sebenarnya, kata pengamat ekonomi, bukan pertama-tama karena pendapatan berkurang, tetapi karena apa yang dianggap perlu itu bertambah.Kurang uang, maka hanya mau “raskin” yang penuh kutu. Tetapi ada uang untuk pulsa, tv, DVD dan elektronik lainnya yang menuntut pengeluaran terus-menerus.
Masalahnya di situ. Apa sebenarnya yang perlu untuk kita? Patokan mana yang bisa dipakai untuk menentukan yang ini perlu dan yang itu tidak perlu? Rasul Paulus memberikan pegangan yang amat sederhana:”Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah itu”( 1 Tim 6:8). Pasti kita katakan itu tidak realistis karena dunia kita sudah berbeda jauh dengan dunianya Paulus. Fransiskus lebih radikal lagi. Menurut dia, yang perlu untuk kita hanya satu, yaitu memiliki Roh Tuhan dan membuka diri kita untuk karyanya yang kudus (AngBul X,8).
Namun ia tetap realistis seperti Paulus. Juga bagi Fransiskus makanan dan pakaian tetap perlu. Tetapi berapa banyak? Pasti tidak perlu memiliki gudang beras dan toko pakaian. Ia “memegang” batas minimal. Makanan didapat sebagai upah kerja dari hari ke hari. Dan pakaian ditetapkan dengan jelas dalam Anggaran Dasar (AngBul II).Itu aturannya. Tetapi, kalau mau, aturan itu mudah sekali ditarik-ulur seperti karet. Pasalnya karena adanya klausul: “kalau perlu”. “Kalau perlu”, karena kebutuhan, Saudara-saudara boleh pakai sepatu meski sebenarnya dilarang. “Kalau perlu”, sesuai dengan keadaan tempat dan musim serta daerah dingin, para minister dan kustos boleh menerima apa yang dibutuhkan untuk keperluan mereka yang sakit dan untuk pakaian saudara lainnya. Jadi patokannya ialah “kalau perlu”. Bagi Fransiskus patokan sederhana itu mencukupi. Ia percaya bahwa setiap Saudara, dalam terang Roh Kudus, mampu mengambil keputusan yang tepat sesuai dengan cara hidup yang dijanjikannya. Sayang, Fransiskus tidak menyadari bahwa kalau kita masuk supermarket dan melihat semua tawaran “pasar bebas” yang begitu menggiurkan, kita rasa semuanya perlu, dan uang keluar tanpa pertimbangan. Tapi bukan para saudagar dan “artis-artis” iklan yang salah. Kelemahan berada dalam diri kita sendiri. Kita seperti kolam yang bocor, kata Nabi Yeremia. Berapa banyak pun air dituangkan ke dalamnya, tidak pernah cukup. Karena itu, untuk menentukan apa yang perlu dan apa yang tidak perlu, jangan tanyakan pada kolam yang bocor itu, yang pasti menjawab semua perlu. Tanyakanlah pada “minister dan kustos”, kata Fransiskus. Atasan kitalah yang berwenang menentukan apa yang kita perlukan, sesuai dengan kehendak Tuhan. Itulah makna ketaatan religius pada atasan.

Fokus

MIMPI MEMBANGUN EKONOMI BERKEADILAN
DI TENGAH PUSARAN KAPITALISME PERTAMBANGAN GLOBAL
(Kristo Tara, ofm)
Ada suatu pemahaman baru yang tumbuh dalam beberapa tahun terakhir ini terkait dengan globalisasi. Banyak orang melihat globalisasi adalah jargon yang diusung oleh para pendukung neo-liberalisme dalam konteks ekonomi yang menelanjangi segala batasan negara demi hegemoni pasar bebas. Lewat jargon ini, para kapitalis mendorong negara untuk meretas segala ikatan nasionalisme dan melucuti identitas kebangsaan, mengobrak-abrik ketahanan nasional lantas meraup kekayaan sumber daya alam. Demikianlah, menurut Mansour Fakih (2001), dalam konteks ekonomi, globalisasi merupakan pengintegrasian ekonomi nasional bangsa-bangsa ke dalam sebuah sistem ekonomi global.
Joseph Stiglitz benar ketika ia mengatakan bahwa Indonesia adalah korban globalisasi. Penulis buku Making Globalization Work itu bertutur demikian: “Indonesia adalah korban globalisasi yang masih menghadapi tantangan berat berkaitan dengan kemiskinan, pengangguran dan memacu pertumbuhan ekonomi” (Bisnis Indonesia, 15/08/2007). Korban globalisasi yang dimaksudkan peraih hadiah nobel ekonomi 2001 ini adalah kepatuhan Indonesia terhadap Konsensus Washington yang disodorkan lembaga keuangan dunia (IMF dan World Bank) lewat paket privatisasi, deregulasi, dan liberalisasi pasar. Lantas Indonesia terjerumus dalam pusaran pasar bebas dunia sekaligus terjebak dalam kebijakan privatisasi koruptif.

Kapitalisme Pertambangan Global
Salah satu sumber ekonomi yang paling diminati para investor saat ini adalah sektor pertambangan. Menurut Price Waterhouse Coopers (PWC), pendapatan negara dari 12 industri tambang yang mereka survei sebesar Rp. 5.666.000.000.000. Pemerintah terpukau oleh angka tersebut, lantas dengan sekuat tenaga membuka lahan negara seluas-luasnya untuk industri pertambangan. Benarkah pertambangan mendongkrak pendapatan nasional dan mensejahterakan masyarakat Indonesia?
Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa di mana dan kapan saja, perusahaan pertambangan yang dikelola secara besar-besaran tidak akan menguntungkan negara pemilik apalagi masyarakat sekitar lokasi pertambangan. Pendapatan negara dari sektor pertambangan ternyata tidak sebanding dengan daya rusaknya terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat. Sebab, selain pengerukan sumber daya alam, seluruh tahapan dan proses industri pertambangan selalu menyisakan persoalan yang merugikan dan menambah penderitaan masyarakat dalam semua aspek. Konflik sosial horisontal-vertikal, hancur dan hilangnya sumber daya ekonomi dan budaya rakyat, serta kerusakan ekologi adalah biaya yang harus ditanggung rakyat.
Penghisapan sumber daya ekonomi berjalan beriringan dengan peminggiran kaum marginal yang tergusur dan tergerus secara sistematis dan legal. Angka kemiskinan meningkat, jumlah pengangguran prduktif terus bertambah. Sejalan dengan itu, kriminalitas dan konflik sosial tumbuh pesat. Lantas pelanggaran HAM menjadi kisah keseharian dalam pusaran impunitas yang langgeng. Sialnya pemerintah tidak terlalu ambil pusing dengan persoalan kerakyatan, tetapi sibuk menadah rezeki dari kran-kran koorporasi kapitalis. Kemiskinan dan ketidakadilan akibat kapitalisme ekonomi di sektor pertambangan adalah fakta, tetapi kesejahteraan ekonomi masyarakat di balik tambang adalah mitos yang diciptakan para kapitalis dan birokrat yang korup.

Mungkinkah Menciptakan Ekonomi yang Berkeadilan?
Di dalam cengkraman tangan kapitalisme ekonomi global yang begitu kuat, nampaknya sangat sulit untuk menciptakan ekonomi yang berkeadilan bagi semua. Kita mengharapkan lahirnya sistem ekonomi alternatif yang lebih memberi ruang bagi rakyat. Hanya saja gerakan-gerakan ekonomi alternatif sering kali mudah dipatahkan oleh tangan-tangan kapitalis. Lantas apa yang bisa kita lakukan?
Kekuatan kapitalis bisa dihadang lewat kritikan dan penolakan terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat. Kaum intelektual dan politisi pro rakyat harus terus-menerus didorong agar memperjuangkan hak dan kepentingan rakyat. Penguatan civil sociaty harus terus dirawat agar tidak terjebak dalam permainan jahat para kapitalis.
Dalam level praksis, kekuatan kapitalisme pertambangan global bisa dilawan lewat proses advokasi masyarakat. Dalam konteks itu, kita boleh belajar dari kegiatan advokasi yang dilakukan oleh komisi JPIC OFM terhadap masyarakat Lembata terkait rencana pertambangan emas oleh PT. Merukh Enterprisess.
Setelah melakukan penelitian investigatif untuk mendapatkan sebuah laporan yang lebih komprehensif mengenai rencana pertambangan, maka JPIC OFM bersama JPIC SVD Ende dan lembaga masyarakat lokal memutuskan untuk mengambil langkah advokasi. Advokasi yang dimaksudkan adalah pendampingan terhadap masyarakat korban atau calon korban pertambangan agar menyadari posisi mereka sebagai warga negara yang bisa memperjuangkan dan mempertahankan hak-haknya dari klaim sepihak pengusaha dan pemerintah. Karena itu, proses advokasi ini pertama-tama adalah memberikan pencerahan kepada masyarakat agar menyadari seluk-beluk pertambangan dengan segala dampak dan konsekuensinya.
Untuk mempertajam proses advokasi JPIC OFM, dalam kerja sama dengan masyarakat lokal dan lembaga lain, mengagendakan beberapa kegiatan. Pertama, sosialisasi laporan hasil penelitian JPIC OFM kepada masyarakat dan pemerintah. Tujuannya agar, baik masyarakat, pemerintah maupun perusahaan memahami persoalan rencana pertambangan secara lebih komprehensif. Ruang ini juga menjadi kesempatan untuk memberikan pendidikan yang mencerdaskan dan mencerahkan masyarakat.
Kedua, kajian ekologis, sosial, ekonomi dan budaya. Tujuannya agar masyarakat, pemerintah, dan perusahaan memahami dampak pertambangan terhadap kehidupan ekonomi, sosial-budaya, dan alam ciptaan. Dengan pemahaman ini, diharapkan masyarakat bersama pemerintah dapat mengembangkan potensi ekonomi sektor lain yang lebih manusiawi dan ramah lingkungan dalam meningkatkan PAD.
Ketiga, penguatan komunitas basis. Kegiatan ini dimaksukan untuk memberikan pendidikan dan pencerahan kepada masyarakat terkait dengan kesadaran akan pentingnya pengakuan dan penghormatan terhadap hak-hak ulayat dan hak guna kawasan hunian; hak masyarakat adat untuk memiliki, memanfaatkan, dan mengelola kawasan sumber dayanya; penglolaan hutan harus terus-menerus mempertahankan dan memperbaiki kualitas sosial ekonomi masyarakat lokal sekaligus melestarikan keanekaragaman hayati; serta pemberdayaan masyarakat di bidang pertanian.
Keempat, membangun jaringan kerja. Untuk memperkuat barisan advokasi, selain JPIC SVD dan lembaga masyarakat lokal, JPIC OFM juga membangun jaringan kerja dengan sejumlah lembaga, baik nasional maupun internasional misalnya, Ecosoc Right, Walhi, Jatam, Kompas, Parhesia Institute, JPIC OFM Internasional, Mission Central, dan lembaga lain yang konsern terhadap persoalan masyarakat lokal.
Kelima, kegiatan advokatif lain yang dibuat JPIC OFM adalah menyelenggarakan diskusi panel di Jakarta dan Lembata dengan tema “Membongakar Mitos Kesejehtareaan Rakyat di Balik Usaha-Usaha Pertambangan”; melakukan lobby dengan berbagai pihak (nasional-internasional) yang peduli pada persoalan tambang dangan lingkungan; serta publikasi kertas posisi, film dokumenter, dan buku. Apakah dengan kegiatan seperti itu kita sedang bermimpi membangun sebuah sistem ekonomi yang berkeadilan bagi semua? Tentu saja ya! Atau setidaknya kita sedang membangun jaringan, menghimpun kekuatan untuk membangkitkan keadilan dan memungut kembali puing-puing kesejahteraan rakyat yang tergilas lemas oleh kekuatan ekonomi kapitalis. Akhirnya, apapun caranya, semua pengikut St. Fransiskus dipanggil untuk berpihak pada keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan.

Fokus

EKONOMI YANG BERKEADILAN, MUNGKINKAH?
( Iron Rupa, OFM)

Kenaikan harga bahan bakar minyak menimbulkan dua fenomena dalam kehidupan bermasyarakat. Di satu sisi, bagi kelompok masyarakat miskin, kenaikan BBM adalah sebuah bencana bahkan kutukan bagi keberlangsungan kehidupan mereka. Kenaikan BBM mempunyai efek yang sangat luas kepada semakin melonjaknya harga-harga bahan kebutuhan pokok dan juga pelayanan jasa khususnya transportasi. Tidak mengherankan kalau gelombang demonstrasi yang mengekspresikan penolakan masyarakat terhadap kenaikan harga BBM semakin hari semakin dominan. Menanggapi sikap penolakan masyarakat, pemerintah mengambil langkah untuk memberikan bantuan langsung tunai (BLT) dan bantuan khusus mahasiswa (BKM) bagi mereka yang dikategorikan miskin serta berprestasi lewat kriteria pemerintah.
Di sisi lain, permintaan akan produk-produk kebutuhan non-primer khususnya motor dan mobil kelas 1.000 CC pada saat kenaikan harga BBM pun tetap menunjukkan grafik naik. Bagi mereka, golongan orang-orang yang kaya dan bermodal, fenomena kenaikan BBM seakan-akan tidak “mengganggu” kenyamanan kehidupan mereka. Hal ini menjadi semakin jelas kalau melihat semakin banyaknya mobil-mobil mewah yang berseliweran di jalanan. Bahkan bagi para pemilik modal dan kaum spekulan khususnya di bidang minyak, kenaikan harga BBM dilihat sebagai “berkah” untuk menarik keuntungan individu yang sebesar-besarnya.
Fenomena ini menunjukkan potret riil dari ekonomi yang tidak berkeadilan. Gelombang arus globalisasi yang senantiasa mengusung jargon kesejahteraan global ternyata menjadi janji yang mendekati sebuah utopia. Pertanyaannya adalah apakah ekonomi yang berkeadilan masih mungkin diharapkan dan diperjuangkan agar dapat terealisasi di muka bumi ini? Bagi kaum penganut sikap pesimisme, kemiskinan material sudah, sedang dan akan terus ada di dunia ini. Sehingga gagasan ekonomi yang berkeadilan adalah sebuah pengharapan semu. Namun demikian, ini tidak berarti bahwa upaya menumbuhkan ekonomi yang berkeadilan menjadi tidak mungkin dan sulit. Sebaliknya, arus sejarah globalisasi ini bagi kita haruslah diarahkan pada upaya membawa alternatif-alternatif terbaik untuk membangun ekonomi yang berkeadilan bagi seluruh masyarakat.

KARAKTER GLOBALISASI
Dalam seminar Dies Natalis XXXIV STF Driyarkara-Jakarta, 5 April 2003, Rm. B. Herry-Priyono SJ mengungkapkan bahwa di paroh dasawarsa 1970-an, sebuah tata ekonomi baru yang dinamakan globalisasi baru mulai bergerak. Filsafat ekonomi-politik globalisasi adalah neoliberalisme. Dalam sistem neoliberalisme, manusia pertama-tama dan terutama dilihat sebagai homo economicus (manusia ekonomi). Ini berarti bahwa cara-cara kita bertransaksi dalam kegiatan ekonomi merupakan satu-satunya model yang mendasari semua tindakan dan relasi antarmanusia, baik itu persahabatan, keluarga, tata Negara maupun hubungan internasional.
Pemahaman bahwa hakekat manusia sebagai manusia ekonomi (homo economicus) semata memonopoli dan menggilas hakekat manusia yang multidimensi. Hakekat manusia sebagai homo socius (manusia sosial) dan manusia sebagai homo religious (manusia religius) direduksi kepada perhitungan untung rugi (utilitarianisme), manusia ekonomi (homo economicus).
Ada dua hal yang ingin dicapai dari gagasan manusia sebagai homo economicus semata. Pertama, relasi antar pribadi serta hubungan-hubungan kita yang lain mesti dipahami dengan memakai konsep dan tolok ukur ekonomi sistem pasar. Ini berarti, kita berkawan dan berelasi dengan sesama kita haruslah dituntun dengan kalkukasi profitnya khususnya ditakar dengan nominal uang / modal. Saya sebagai seorang religius dalam memilih kawan atau rekan kerja, saya akan menilai apakah rekan kerja saya cukup bermodal atau tidak, relasi ini membawa keuntungan buat saya atau tidak. Kalau ia dari kalangan mampu dan menguntungkan saya, maka saya bekerja dengan semangat. Tetapi jikalau rekan kerja kita dari kalangan ”kurang mampu”, kita cederung bersikap ogah-ogahan.
Kedua, prinsip ekonomi sistem pasar neoliberalisme ini digunakan sebagai tolok ukur untuk mengevaluasi berbagai kebijakan pemerintah suatu Negara. Bukan saja dalam relasi antar individu, sistem mengeruk profit dan perolehan laba yang sebesar-besarnya menjadi ukuran kebijakan pemerintahan sebuah negara. Kebijakan pemerintah haruslah terarah pada penumpukan keuntungan dan modal. Alhasil, perhatian kepada kesejahteraan masyarakat menjadi ”sekunder”. Bahkan demi penumpukan modal dan keuntungan bagi ”pemerintah suatu negara”, pengorbanan dari masyarakat menjadi sebuah ”keharusan”.
Tampak bahwa neoliberalisme ekonomi secara perlahan mengingkari tujuan hidup bersama yakni “kesejahteraan bersama” (commonwealth). Tujuan yang diusung oleh neoliberalisme adalah akumulasi “kekayaan individual” (individual wealth). Di sinilah terjadi penggusuran ruang hidup sosial, hidup bersaudara dalam kebersamaan dengan urusan individual. Globalisasi dengan filsafat ekonominya neoliberalisme telah meningkatkan persaingan demi penumpukan kekayaan pribadi dengan akibat bahwa kesejahteraan rakyat atau bersama menjadi nomor kedua. Bukan prioritas. Kesejahteraan bersama menjadi efek semata bukan tujuan utama.

RELEVANSI HIDUP FRANSISKAN
Persoalan terlihat jelas berkaitan dengan kehidupan kita sebagai Fransiskan dari fenomena globalisasi adalah sebagai berikut. Pertama, penghargaan terhadap sesama saudara didasarkan pada penghasilan finansial, produktivitasnya dan kemampuan-kemampuannya yang diukur dengan kriteria ekonomi (uang). Kedua, adanya gap atau kesenjangan antara orang-orang kaya dan orang-orang miskin yang makin lebar. Ketiga, kesejahteraan dan persaudaraan bukanlah menjadi dasar dan puncak hidup. Sebaliknya urusan individu, masing-masing pribadi semata adalah yang prioritas.
Ketiga persoalan ini menantang dan menguji penghayatan dan pengamalan spiritual Fransiskan kita. Pertama, kriteria homo economicus ini bertentangan dengan spirit Fransiskan kita. Spriritualitas kita sebagai fransiskan melihat manusia (bahkan seluruh alam ciptaan) adalah saudara dan saudari kita sebagai sesama ciptaan-Nya. Konsep manusia sebagai saudara mengindikasikan dua hal. Pertama, unsur sosial dan persaudaraan dalam solidaritas menjadi karakter manusia ala fransiskan. Bagi para pengikut St. Fransiskus, homo socius adalah hakekat manusia sebagai citra Allah yang selalu ingin berelasi dengan manusia ciptaan-Nya. Kedua, pengakuan manusia sebagai saudara membangun cara hidup fransiskan yang membawa damai, yang menerima orang lain apa adanya tanpa ada kriteria apapun. Bagi para fransiskan, sesama adalah saudara yang dianugerahkan Tuhan bagi kita. Oleh karena itu, seperti apa adanya saudara kita dihadapan Allah demikianlah saudara itu harus dihormati dan dihargai. Bukan dihormati dan dihargai karena jabatan, popularitas dan produktivitas serta profitnya bagi Ordo atau Tarekat.
Kedua, membangun sikap peduli dan solidaritas ala gerakan Fransiskan awal. Kepedulian, persaudaraan, dan solidaritas serta kegembiraan menjadi trade mark saudara-saudara awal pengikut St. Fransiskus Assisi. Berhadapan dengan konteks sosial yang membuat jurang antara kaum borjuis dan kaum proletariat, saudara-saudara fransiskan mempopulerkan cara hidup sederhana, cara hidup yang mau berbagi dengan mereka yang berkekurangan. Mereka tidak saja menganjurkan, tapi mereka melakukannya. Mereka menjual harta miliknya, membagikannya kepada orang yang membutuhkan dan mengikuti St. Fransiskus. Kita memang tidak perlu menjual seluruh harta benda ordo dan tarekat untuk membantu mereka yang membutuhkan, tapi kita bisa berbagi dari apa yang kita miliki khususnya perhatian dan cinta kita kepada orang-orang di sekitar kita khususnya yang membutuhkan.
Ketiga, mengokohkan dan memprioritaskan nilai-nilai kebersamaan dan hidup bersaudara. Berhadapan dengan tawaran hidup individualisme yang menawarkan keterbukaan untuk mencari kenikmatan dan kesenangan pribadi semata-mata, spiritualitas Fransiskan mengajak kita untuk memilih dan memprioritaskan kebutuhan bersama dalam komunitas, ordo atau tarekat. Kita diajak untuk tetap mengedepankan janji setia kita untuk menyerahkan seluruh hidup dalam ordo atau tarekat.

SEBUAH EKSPEKTASI: EKONOMI KERAKYATAN
Ekonomi yang berkeadilan selalu mungkin diwujudkan jika nilai-nilai penghargaan terhadap sesama manusia menjadi prioritas. Rakyat dilihat sebagai subjek ekonomi bukan sebagai objek ekslploitasi. Pada titik inilah, ekonomi rakyat perlu diprioritaskan dan diutamakan. Sebuah sistem ekonomi yang bersumber dan berpuncak pada kepentingan rakyat atau masyarakat banyak.
Sebagai seorang fransiskan, penghargaan kepada sesama sebagai saudara dan membangun sikap peduli dan bersolider dengan mereka yang membutuhkan serta proaktif membangun jaringan untuk memengaruhi kebijakan publik yang berorientasi pada kepentingan masyarakat menjadi pilar-pilar yang kokoh untuk membangun karakter ekonomi yang berkeadilan. Membangun dan mengembangkan ketiga aspek ini, hemat saya, kita sedang bangkit dan bergerak untuk terlibat dalam membangun kehidupan masyarakat yang lebih baik dan lebih sejahtera.Oleh karaena itu dalam menjawab persoalan dan tantangan yang diberikan oleh globalisasi, para pengikut St. Fransiskus diajak untuk mampu memberi alternatif-alternatif cara hidup yang membuka kesadaran bersama bahwa upaya menciptakan keselamatan (baca: kesejahteraan) manusia bersama pada hakekatnya adalah juga menjadi tugas dan tanggung jawab kita bersama. Mulailah dari diri sendiri, keluarga, komunitas, ordo atau tarekat maka ekonomi yang berkeadilan mampu terwujud.

Link Teman-Teman